Jumat, 10 Februari 2012

ASKEP PADA PASIEN DEPRESI

ASKEP PADA PASIEN DEPRESI Oleh : Yayang Nur Enida(S1-KEPERAWATAN)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. Alam perasaan merujuk pada perpanjangan keadaan emosional yang mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang . Alam perasaan ini meliputi perlakuan dan penyerapan emosi seseorang dan mempunyai arti yang sama dengan afek, keadaan perasaan dan emosi. Emosi atau alam perasaan memberikan suatu peran adaptif terhadap individu. Depresi adalah suatu jenis Gangguan alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun. Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya. Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras. Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. 1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : a. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah keperawatan jiwa. b. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang askep klien dengan depresi dari materi yang dicari diluar bangku kuliah. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kasus (Masalah Utama) Gangguan alam perasaan. 2.2 Definisi Depresi Alam perasaan : keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang. Gangguan alam perasaan ditandai oleh dendrom depresi sebagian / penuh selain itu juga ditandai oleh kehilangan minat / kesenangan dalam aktivitas sehari-hari dan rekreasi (Depkes RI. 2000). Depresi adalah suatu respon emosional yang berasal dari seseorang yang mengalami gangguan alam perasaan, ditandai dengan perasaan sedih ; berduka yang memanjang dan berlebihan (stoart & sundeen, 1998). Depresi adalah keadaan afektif yang mempunyai karakteristik perasaan sedih, merasa bersalah dan harga diri rendah. Keadaan ini kemungkinan bagian dari penyakit baik kondisi kronis maupun akut, sering dihubungkan dengan respon kehilangan (Schultz,Videbeck,1998). Depresi adalah suatu kelainan alam perasaan berupa hilangnya minat atau kesenangan dalam aktivitas-aktivitas yang biasa dan pada waktu yang lampau (Townsend,1998:179). Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi (Rawlins et all 1993). Bisa disimpulkan bahwa depresi adalah gangguan patologis terhadap mood yang mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidak berdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut bahaya yang akan datang. Psikodinamik Gangguan alam perasaan : depresi dapat terjadi karena ketidakseimbangan elekerolis yaitu perubahan Na+ dan K+ di dalam cairan. Perubahan biokimia (norepinefrin, dopamin & serotonin) juga mempengaruhi keadaan emosional individu. Rendahnya kadar norepinefrin & dopamine di dalam otak mengakibatkan individu berada dalam episode depresi, sedangkan peningkatan kadar norepinefrin dan dopamine didalam otak mengakibatkan perilaku mania. Rentang Respon emosional  Responsif Respon emosional individu yang terbuka dan sadar akan perasaannya. Pada rentang ini individu berpartisipasi dengan dunia internal dan eksternal.  Reaksi kehilangan yang wajar Posisi rentang yang normal yang dialami oleh individu karena kehilangan, pada respon ini menghadapi realita dan kehilangan dan mengalamai proses kehilangan, misal : bersedih, marah pada diri sendiri, berhenti melakukan kegiatan sehari-hari. Reaksi kehilangan ini tidak berlangsung lama.  Supresi Tahap awal respon emosional yang mendapat dan yang menyangkal, menekan semua aspek perasaannya terhadap lingkungan.  Reaksi duka yang memanjang Merupakan penyangkalan yang menekan dan memanjang tapi tidak tampak reaksi emosional terhadap kehilangan kembali bersama. Ini dapat terjadi beberapa tahun.  Depresi Suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan selama berduka yang berlebihan dan berkepanjangan reaksi dapat digunakan untuk menunjukan berbagai penomena, tanda, gejala emosional, reaksi penyakit/kondidi secara menyeluruh.  Mania Suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan gangguan alam perasaan yang meningkat, meluas / keadaan emosional yang mudah tersinggung dan terangsang. Kondisi ini dapat diiringi dengan perilaku berupa peningkatan kegiatan banyak bicara, tindakan yang meloncat, senda gurau, tertawa berlebihan, penyimpangan seksual. 2.2.1 Jenis-Jenis Depresi Penggolongan depresi dapat dibedakan (Wilkinson,1995:18 - 26): 1. Menurut gejalanya • Depresi neurotic : Depresi neurotik biasanya terjadi setelah mengalami peristiwa yang menyedihkan tetapi yang jauh lebih berat daripada biasanya. Penderitanya seringkali dipenuhi trauma emosional yang mendahului penyakit misalnya kehilangan orang yang dicintai, pekerjaan, milik berharga, atau seorang kekasih. Orang yang menderita depresi neurotik bisa merasa gelisah, cemas dan sekaligus merasa depresi. Mereka menderita hipokondria atau ketakutan yang abnormal seperti agrofobia tetapi mereka tidak menderita delusi atau halusinasi. • Depresi psikotik : Secara tegas istilah 'psikotik' harus dipakai untuk penyakit depresi yang berkaitan dengan delusi dan halusinasi atau keduanya. • Psikosis depresi manik : Depresi manik biasanya merupakan penyakit yang kambuh kembali disertai gangguan suasana hati yang berat. Orang yang mengalami gangguan ini menunjukkan gabungan depresi dan rasa cemas tetapi kadang-kadang hal ini dapat diganti dengan perasaan gembira, gairah, dan aktivitas secara berlebihan gambaran ini disebut 'mania'. • Pemisahan diantara keduanya :Para dokter membedakan antara depresi neurotik dan psikotik tidak hanya berdasarkan gejala lain yang ada dan seberapa terganggunya perilaku orang tersebut. 2. Menurut Penyebabnya • Depresi reaktif : Pada depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stres luar seperti kehilangan seseorang atau kehilangan pekerjaan. • Depresi endogenus : Pada depresi endogenous, gejalanya terjadi tanpa dipengaruhi oleh faktor lain. • Depresi primer dan sekunder : Tujuan penggolongan ini adalah untuk memisahkan depresi yang disebabkan penyakit fisik atau psiatrik atau kecanduan obat atau alkohol (depresi 'sekunder') dengan depresi yang tidak mempunyai penyebab-penyebab ini (depresi 'primer'). Penggolongan ini lebih banyak digunakan untuk penelitian tujuan perawatan. 3. Menurut arah penyakit • Depresi tersembunyi : Diagnosa depresi tersembunyi (atau atipikal) kadang-kadang dibuat bilamana depresi dianggap mendasari gangguan fisik dan mental yang tidak dapat diterangkan, misalnya rasa sakit yang lama tanpa sebab yang nyata atau hipokondria atau sebaliknya perilaku yang tidak dapat diterangkan seperti wanita lanjut usia yang suka mengutil. • Berduka : Proses kesedihan itu wajar dan merupakan reaksi yang diperlukan terhadap suatu kehilangan. Proses ini membuat orang yang kehilangan itu mampu menerima kenyataan tersebut, mengalami rasa sakit akibat kesedihan yang menimpa, menderita putusnya hubungan dengan orang yang dicintai dan penyesuaian kembali. • Depresi pascalahir : Banyak wanita kadang-kadang mengalami periode gangguan emosional dalam 10 hari pertama setelah melahirkan bayi ketika emosi mereka masih labil dan mereka merasa sedih dan suka menangis. Seringkali hal itu berlangsung selama satu atau dua hari kemudian berlalu. • Depresi dan manula : Usia tua merupakan saat meningkatnya kerentanan terhadap depresi. Namun, kadang-kadang depresi pada manula ditutupi oleh penyakit fisik dan cacat tubuh seperti penglihatan atau pendengaran yang terganggu. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengingat kemungkinan terjadinya penyakit depresi pada orang tua. 2.3 Proses Terjadinya Masalah Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun. Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagai¬nya. Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedah¬an, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras. Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.  Faktor Predisposisi 1. Faktor Genetik Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan mengikat pada kembar memozigot daripada di zigot. 2. Teori agresi berbalik pada diri sendiri Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dijatuhkan pada diri sendiri. Fresusi mengatakan bahwa kehilangan objek / orang ambilkan antara kerusakan dan cinta dapat berbalik menjadi perasaan yang mengasihkan diri sendiri 3. Teori Kehilangan Berhubungan dengan faktor perkembangan misalnya kehilangan orang bisa pada masa anak, perpisahan yang bersifat romantis dengan orang yang sangat dicintai, individu tidak berdaya mengatasi kehilangan. 4. Teori Kepribadian Mengemukakan bahwa sifat kepribadian akan menyebabkan seseorang mengalami depresi. 5. Teori Kognitif Mengemukakan bahwa depresi terjadi sebagai akibat gangguan perkembangan terhadap penilaian yaitu penilaian negatif terhadap diri sehingga terjadi gangguan proses pikir, individu menjadi pesimis dan memandang dirinya tidak ada kuat dan tak berharga secara hidup yang tidak memiliki harapan. 6. Model belajar ketidakberdayaan Mengemukakan bahwa depresi dimulai dari kehilangan kendali diri karena pengalamn kegagalan, menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah akhirnya keyakinan individu akan ketidakmampuan mengadakan kehidupan sebagai ia tidak berupaya mengembangkan respon yang adaptif. 7. Model Perilaku Mengemukakan bahwa depresi merupakan kurangnya pengiriman (reinforcement) positif selama interaksi dengan lingkungan. 8. Model biologis Mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi penurunan kimiawi yaitu defisiensi kolefsolamin dan banyaknya endokrin & hipersekresi isortisol.  Faktor Presipitasi Stresser yang dapat menyebabkan GAP (Gangguan Alam Perasaan) 1. Faktor Biologis Ketidakseimbangan metabolisme khususnya penggunaan obat-obat dari hipertensi gangguan yang adaptif dan roanya klien yang kronis disertai depresi. Depresi pada usia lanjut akan komplik dan organic. 2. Faktor Psikologis Kehilangan kasih sayang termasuk kehilangan cinta seseorang dan kehilangan harga diri, seperti kejadian dalam kehidupan. 3. Faktor Sosial Budaya Kehilangan peran mekanisme, koping, status sosial ekonomi keluarga, hubungan inter personal, organisasi kemasyarakatan, kurangnya support, mendukung depresi.  Mekanisme Koping Mekanisme koping yang digunakan pada depresi, kehilangan memanjang pada depresi. Mekanisme koping yang digunakan adalah represi, mengikari dari disosiasi. Terlalu mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan karena kurangnya pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan karena kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan.  Tanda dan Gejala / Perilaku yang Ditampilkan oleh Klien Depresi Afektif : sedih, cemas, apatis, kebencian, kebesaran, marah, perasaan artolok, perasaan bersalah, merasa tidak berdaya, putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri dan merasa tidak berharga. Kognitif : Abivalen, bingung, ragu-ragu, tidak mampu konsentrasi, kurang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran merusak diri, rasa tak menentu, pesimis. Fisik : sakit perut, anorexia, gangguan tingkat aktivitas, menarik diri, isolasi sosial, irritable (mudah marah, menangis, tersinggung), berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan. Tingkah laku: agresif, agriasi, gangguan tingkat aktivitas, menarik diri, isolasi sosial, irritable (mudah marah, menangis, tersinggung) berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan. Menurut Kaplan (1997) gejala utama dari depresi adalah kehilangan minat atau kesenangan. Pasien mengatakan bahwa mereka merasa murung, putus asa dalam kesedihan, atau tidak berguna. Adapun tanda dan gejala depresi menurut Rawlins et all (1993) adalah: 1). Dimensi Fisik 1. Gangguan primer pada struktur dan fungsi otak dan sistem saraf 2. Perubahan kimiawi yaitu penurunan noreprineprin, serotonin &peningkatan steroid 3. Penurunan metabolism 4. Penurunan perawatan diri dan kebersihan diri 5. Kehilangan energi dengan lelah dan lemah 6. Penurunan aktivitas motorik 7. Depresi mungkin berhubungan dengan adanya gangguan sistem imun 2). Dimensi intelektual 1. Pemikiran negatif terhadap diri sendiri, dunia/lingkungan dan masa depan 2. Tidak mampu berfikir rasional 3. Merasa tidak mampu mengontrol dirinya sendiri maupun lingkungan 3). Dimensi emosional 1. Merasa takut dan cemas 2. Merasa tidak berdaya dan putus asa 3. Perasaan marah ditekan 4). Dimensi sosial 1. Hubungan antara orang depresi dengan orang lain kadangkala terlihat seperti ketergantungan yang berlebihan 2. Tingkah laku depresi mungkin sebagai usaha untuk memanipulasi orang lain untuk memenuhi kebutuhannya 3. Orang depresi merasa tidak mempunyai pendukung menarik diri dari lingkungan dan hilang ketertarikan 2.4 Pohon Masalah 2.5 Masalah Keperawatan yang Perlu Dikaji 2.5.1 Masalah Keperawatan Masalah Keperawatan yang mungkin muncul adalah : - Gangguan alam perasaan depresi - Ketidakberdayaan - Resti mencederai diri - Berduka disfungsional - Kehilangan - HDR - Isolasi diri - Defisit perawatan diri 2.5.2 Data yang Perlu Dikaji Pengkajian dilakukan dengan mengidentifikasi : - Faktor predisposisi. - Faktor presipitasi. - Perubahan perilaku. - Mekanisme yang digunakan klien. Data yang dapat terkaji pada klien depresi antara lain : - Mengatakan tidak dapat menghasilkan sesuatu. - Mengatakan secara verbal ketidakmampuan pengendalikan/mempengaruhi sesuatu. - Mengatakan ketidakmampuan merawat diri. - Segan mengekspresikan perasaan yang sebenarnya. - Apatis, pasif. - Ekspresi muka murung. - Berbicara dan gerakan lambat. - Tidak berlebihan. - Menghindari orang lain. - Nafsu makan kurang. - Tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat diberikan kesempatan. Atau bisa mengkaji tentang : 1.Gangguan alam perasaan: depresi a.Data subyektif: Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatik. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri. b.Data obyektif: Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan langkah yang diseret.Kadang kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering menangis.Proses berpikir terlambat, seolah olah pikirannya kosong, konsentrasi terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi.Kadang kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu. 2.Koping maladaptive a. DS: menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan. b. DO: nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls. 2.6 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan menurut NANDA yang muncul pada pasien dengan depresi (Fortinash,1995) adalah : 1. Risiko mencederai diri berhubungan dengan gangguan mental depresi. 2. Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping maladaptif. 3. Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan gangguan konsep diri (harga diri rendah) 4. Harga diri rendah kronik berhubungan dengan kegagalan 5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tingkat percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan koping 6. Putus asa berhubungan dengan stress berkepanjangan 7. Defisit perawatan diri (mandi/personal higine) berhubungan dengan menurunnya motivasi 8. Defisit perawatan diri (makan) berhubungan dengan menurunnya motivasi 2.7 Rencana Tindakan keperawatan No Dx Kep Perencanaan Tujuan Intervensi Rasional 1 Risiko mencederai diri b.d gangguan mental depresi TU : Mengajarkan klien dapat berespon yang adaptif, merespon kepuasan dan rasa senang klien terhadap apa yang diterima dari lingkungan. TK. 1.Klien dapat membina hubungan saling percaya diri. 2. Klien dapat mengenali dan mengekspresikan emosinya 3. Mampu memodifikasi rasa kognitif yang negatif. 4. Klien termotivasi untuk mencapai tujuan yang realistis 1. a. bina hubungan saling percaya dengan klien, tanggapi pembicaraan dengan sabar, tidak menyangkal, bicara jelas, empati, hangat, bisa hebatan. b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan c. Berikan respon empati dan menerima klien. 2. a. Tunjukan respon emosional dan menerima klien. b. Bantu klien untuk mengekspresikan perasaan dan rasa marahnya dengan tepat. c. Bantu klien mengurunkan tingkat kecemasan, yaitu dengan menyediakan waktu untuk diskusi dan bina hubungan yang sifatnya supportif d. Beri waktu klien untuk berespon e. Berikan respon empati dengan berfokus pada perasaan klien. 3. a. Diskusikan tentang masalah yang dihadapi klien tanpa memintanya untuk mengumpulkannya. b. Identifikasi pemikiran yang negatif c. Bantu klien meningkatkan pemikiran yang positif. d. Identifikasi persepsi kliennya tidak tepat, penyimpangan dan pendapat-pendapat yang tidak rasional 4. a. Bantu klien untuk dapat mengarah tujuan yang tidak realistis ke tujuan yang realistis. b. Bantu klien menyadari nilai yang dimilikinya / perubahan yang terjadi c. Fokuskan kegiatan pada saat ini bukan masa lalu/ masa depan d. Berikan penghargaan / pujian jika klien melakukan sesuatu. - Merupakan sasaran untuk melakukan intervensi dan perawatan pada klien. - Untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan klien - Klien merasa penting dan ditangani -Klien depresi mania mempunyai kesamaan mengantisipasi dan mengekspresikan perasaannya -Modifikasi pola kognitif / membantu untuk melakukan pengendalian diri dantingkah laku perubahan diri. -Tujuan yang realistis memudahkan klien lebih jelas dicapai sehingga mengurangi rasa tidak berdaya dan putus asa. Rencana tidakan keperawatan untuk diagnosa yang lainnya diantaraya : Klien dapat mengarahkan moutnya lebih baik. o Hindari milieu terapi dengan suasana dan tata warna yang cerah. o Ajak klien ke tempat yang lebih menyenangkan. o Alihkan suasana hati klien agar tidak terus menerus memikirkan masalahnya. o Diskusikan dengan klien tentang pentingnya mengontrol persepsi dan perasaan kita agar hidup lebih menyenangkan. Klien dapat menggunakan koping adaptif dan melihat sisi positif dari masalah. o Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang di rasa klien. o Tanyakan pada klien cara yang biasa dilakukanmengatasi perasaan sedih. o Diskusikan dengan klien manfaat dari kopinga yang bisa di gunakan. o Bersamaan dengan klien mencari berbagai alternative koping. o Anjurkan klien untuk mencoba alternative lain dalam menyelesaikan masalah. Klien dapat membina hubungan saling percaya dan insiatif berkomunikasi o Perkenalkan diri dengan klien dengan cara menyapa klien dengan rama,baik verbal dan non verbal. o Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin dengan sikap empati. o Terima klien deangan apa adanya tanpa membandingkan dengan orang laen o Ajarkan teknik komunikasi lain selain verbal untuk menyampaikan ide,gagasan Klien dapat menggunakan dukungan social. o Kaji system pendukung kenyakinan o Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstrenal individu Klien dapat meningkatkan harga diri. o Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya o Bantui mengindentifikasi sumber-sumber harapan. Klien mampu meningkatkan produtivitas dan membuat jadwal harian. o Ajarkan kaitan manajemen waktu dengan nasib baik seseorang. o Identifikasi kegiatan harian yang positif yang bisa dilakukan di rumah o Identifikasi kegiatan yang dilakukan d rumah sakit. o Mendemonstrasikan cara membuat jadwal harian Klien dapat menggunakan dengan benar dan tepat o Diskusikan tentang obat o Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar o Anjurkan membicarakan efek samping yang di rasakan. o Beri reinforcement positif bila menggunakan obat yang benar. Klien mampu dan berupaya untuk memenuhi personal hygiene o Mengkaji kemampuan melakukan perawatan diri o Mendiskusikan pentingnya kebersihan dan pengaruhnya terhadap kesehatan dan kehidupan yang lebih baik d masa depan. o Mendiskusikan dengan keluarga agar mampu merawat anggota kluarganya yang mengalami masalah kurang perawatan diri Evaluasi Untuk mengukur keberhasilan asuhan keperawatan yang perawat lakukan, dapat dilakukan dengan menilai kemampuan pasien dan keluarga, contohnya : 1. Evaluasi terhadap masalah risiko bunuh diri Kemampuan pasien: a. Pasien mampu mengungkapkan ide bunuh diri b. Pasien mampu mengenali cara-cara untuk mencegah bunuh diri c. Pasien mampu mendemonstrasikan cara menyelesaikan masalah yang konstruktif Kemampuan keluarga: a.Keluarga mampu mengenali tanda dan gejala awal perilaku bunuh diri b.Keluarga mampu menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah perilaku bunuh diri c.Keluarga mampu membantu pasien dalam menetapkan cara-cara yang positif untuk mengatasi masalah 2. Evaluasi terhadap masalah ketidak berdayaan Kemampuan pasien: a. Pasien mampu berpartisipasi dalam menentukan perawatan diri b. Pasien mampu melakukan kegiatan positif dalam menyelesaikan masalah Kemampuan keluarga: a. Keluarga mampu mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien b. Membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki Dokumentasi asuhan keperawatan Pendokumentasian atau pencatatan dilakukan pada semua tahap proses keperawatan. Berikut adalah panduan pengkajian pada pasien dengan depresi. Berikut ini adalah contoh pendokumentasian lengkap askep dengan depresi di puskesmas : BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Kesimpulan pada makalah ini dapat dijelaskan sebagai berikut : - Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. - Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. - Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. 3.2. Saran Saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut : - Akademik hendaknya menyediakan buku-buku yang berhubungan dengan askep pada klien depresi umumnya materi-materi yang berkaitan dengan keperawatan jiwa. - Untuk mengatasi masalah depresi ini tidak bisa dilakukan secara instan melainkan harus sabar dan konsisten. Ada beberapa cara sederhana dan mudah dalam menghadai depresi adalah : o Berolah raga secara rutin dan teratur o Perbanyaklah berjemur di sinar matahai pagi o Hindari menyendiri, usahakan untuk sering berkumpul bersama keluarga atau saudara agar ada orang yang bisa diajak bicara. o Jangan terlalu banyak berpikir akan hal hal negatif, pikirkanlah hal hal baik dan menyenangkan o Usahakan untuk bersikap terbuka terhadap orang terutama keluarga o Berjalan jalan ke tempat tempat yang disukai. o Pijat refleksi pada orang yang tepat juga bisa membantu mengurangi depresi. o Jika olah raga dan jalan jalan dipagi hari bisa dilakukan secara rutin dan konsisten maka dapat memacu otak untuk melepaskan hormon bahagia (endorphins) dan dukungan yang sepenuhnya dari keluarga juga sangat dibutuhkan oleh penderita depresi. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. 2000. Keperawatan Jiwa, Teori & Tindakan Keperawatan, Jakarta : Dirjen Penatalaksanaan Medik. http://www.akperppni.ac.id/keperawatan-jiwa/asuhan-keperawatan-jiwa-depresi-2 http://www.kapukonline.com/2010/01/askepjiwadepresi.html#ixzz1aReRwG6L Johnson&M Maas. (2000).Nursing Outcomes Classification. St. Louis: Mosby Kellas, B.A. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC. NANDA,2001, Nursing Diagnosis; Definition and Classification (2001-2002) Philadelphia Nurjannah, Intansari (2004), Pedoman Penanganan pada Gangguan Jiwa, Mocomedia, Yogyakarta Swart & Sunyeen, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakata : EGC. Towsend, MC. 1998. Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikotrik. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar