Minggu, 26 Februari 2012

Penggunaan Diri Perawat Secara Terapeutik

Penggunaan Diri Perawat Secara Terapeutik
Dimensi respon yang harus dimiliki oleh perawat terdiri dari 5 hal : Kesejatian Kesejatian adalah pengiriman pesan pada orang lain tentang gambaran diri kita yang sebenarnya. Kesejatian dapat ditunjukkan dengan adanya kesamaan antara verbal dan non verbal (kongruen). Lawan dari kongruen adalah ingkongruen (adanya ketidaksamaan antara verbal dan non verbal) Akibat dari ingkongkruen - Tidak percaya kepada perawat - Curiga - Hubungan menjadi renggang - Informasi yang berharga hilang - Menerima pesan yang berbeda - Bingung - Mungkin hanya percaya pada pesan non verbal - Mempertanyakan kredibilitas perawat - Sulit memelihara dialog yang berarti - Tidak merasa mereka berbicara dengan orang lain yang sebenarnya - Merasa bahwa perawat hanya mencoba menghormati klien daripada keinginan untuk mencapai kebersamaan. Ciri – ciri perilaku ingkongruen a. Gerak kaki - Menendang dengan agresif - Posisi kaki tegang - Sering mengganti postur kaki - Gerak tangan b. Menggaruk pipi - Menarik kuku tangan dengan keras - Melindungi atau menendang lutut ketika tersenyum Keuntungan bagi perawat jika perilaku kongruen - Berbicara dengan kesungguhan dan tanpa menyakiti - Mengekspresikan apa yang dia pikirkan, perasaan dan pengalaman saat ini. - Menunjukkan kespontanan - Menunjukkan keterbukaan Keuntungan bagi klien jika perilaku kongruen - Merasa bebas untuk mengekspresikan pikiran dan emosi mereka yang sesungguhnya - Mengembangkan perasaan percaya pada perawat - Menyediakan informasi dimana mereka dapat menggunakannya - Merasakan atmosfer rileks - Menikmati iklim kesejatian Kesejatian dipengaruhi oleh : a. Kepercayaan diri Orang yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi akan mampu menunjukkan kesejatiannya pada saat yang tidak nyaman dimana kesejatian yang ditampilkan akan mengakibatkan resiko tertentu b. Persepsi terhadap orang lain Apabila seseorang melihat orang lain mempunyai power yang lebih besar dan menguasai kita maka hal ini akan mempengaruhi bagaimana kita akan menampilkan seperti apa diri kita yang sebenarnya. c. Lingkungan Lingkungan terdiri dari waktu dan tempat. Tempat dimana seseorang berada di muka publik ( auditorium, panggung) akan mengakibatkan seseorang merasa sulit untuk menunjukkan seperti apa dirinya yang sebenarnya. Waktu yang terbatas juga akan mengakibatkan seseorang tidak mampu menunjukkan siapa dia yang sebenarnya Empati Empati adalah kemampuan menempatkan diri kita pada orang lain dan bahwa kita telah memahami bagaimana perasaan orang lain tersebut dan apa yang menyebabkan reaksi mereka tanpa emosi kita terlarut dalam emosi orang lain. Beberapa aspek empati antara lain : a. Aspek mental Aspek mental berarti memahami orang secara emosional dan intelektual. Kemampuan melihat dunia orang lain dengan menggunakan paradigma orang lain tersebut. b. Verbal Kemampuan mengungkapkan secara verbal pemahaman terhadap perasaan dan alasan reaksi emosi klien. Aspek verbal memerlukan keakuratan (ketepatan), kejelasan dan kealamiahan (naturalness). c. Aspek non verbal Aspek non verbal yang diperlukan adalah kemampuan menunjukkan empati dengan kehangatan dan kesejatian. Enam tahap dalam melakukan empati : a. Membersihkan pikiran kita dari agenda yang mengganggu (kekhawatiran, tekanan kerja, hutang ). b. Dengarkan. c. Mengkonsentrasikan pesan verbal dan non verbal untuk mengerti perasaan dan alasan reaksi klien. d. Mengatakan pada diri sendiri ” orang ini ingin mendengar apa darinya?” e. Menyampaikan respon empatik yang mencakup. f. Keakuratan. g. Natural. h. Kejelasan. i. Kehangatan. j. Kesejatian. k. Mengecek apakah respon empatik yang kita lakukan tersebut efektif. Kehangatan Kehangatan sangat diperlukan dalam menyampaikan empati untuk menyampaikan kehangatan bisa secara verbal maupun non verbal. Kondisi muka - Dahi : dahi tampak rileks, tidak ada kerutan - Mata : kontak mata yang nyaman, gerakan mata natural - Mulut : mulut tampak rileks, tidak cemberut, tidak menggigit bibir, tersenyum, rahang rileks. - Ekspresi : tampak rileks, tidak ada ketakutan, kekhawatiran menunjukkan perhatian dan ketertarikan. Kondisi postur/sikap tubuh - Tubuh : berhadapan, bahu paralel dengan lawan bicara - Kepala : duduk atau berdiri dengan tinggi yang sama, menganggukan kepala jika perlu - Bahu : mudah digerakkan tidak tegang - Lengan : mudah digerakkan, memegang kursi atau tembok - Tangan : tidak memegang atau menggengam diantara keduanya, tidak mengetuk – ngetuk pena atau bermain dengan objek - Dada : nafas biasa, tidak tampak menelan - Kaki : tampak nyaman, tidak menendang - Telapak kaki : tidak mengetuk Posisi tubuh yang menurunkan kehangatan : - Mengangkat bahu tanda tidak peduli atau tidak tahu - Bersedekap - Menyilang kaki - Mengepalkan tinju Hal – hal yang dapat merusak kehangatan - Melihat sekeliling pada saat berkomunikasi dengan orang lain - Mengetuk – ngetuk dengan jari - Mundur tiba – tiba - Tidak tersenyum Hambatan untuk dapat menunjukkan kehangatan antara lain : - Terburu – buru - Emosi berlebihan - Shock/terkejut - Penilaian tentang orang lain sehingga membuat kita menjadi mengalihkan perhatian pada masalah kita sendiri. Respek/Hormat Respek berarti mengakui kebutuhan orang lain untuk dipenuhi, dimengerti dan dibantu dalam keterbatasan kemampuan dan waktu yang dimiliki oleh perawat Perilaku respek ditunjukkan dengan : - Melihat ke arah klien - Memberikan perhatian yang tidak terbagi - Memelihara kontak mata - Senyum pada saat yang tidak tepat - Bergerak ke arah klien - Menentukan sapaan yang disukai - Jabat tangan atau sentuhan yang lembut Konkret Perawat menggunakan terminologi yang spesifik dan bukan abstrak. Manfaat dari konkret adalah dapat mempertahankan respon perawat terhadap perasaan klien, penjelasan dengan akurat tentang masalah dan mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik. REferensi : google.com semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar