Sabtu, 25 Februari 2012

RESUME BERDUKA DAN KEHILANGAN

RESUME BERDUKA DAN KEHILANGAN Oleh : Yayang Nur Enida Kehilangan
Sejak lahir, individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan. Respon terakhir terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh respons individu terhadap kehilangan sebelumnya (Potter dan Perry, 1997) Kehilangan (loss) adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu selama rentang kehidupannya. . Kehilangan dapat memiliki beragam bentuk, sesuai nilai dan prioritas yang dipengaruhi oleh lingkungan seseorang yang meliputi keluarga, teman, masyarakat, dan budaya. Kehilangan bisa berupa kehilangan yang nyata atau kehilangan yang dirasakan. Kehilangan yang nyata (actual loss) adalah kehilangan orang atau objek yang tidak lagi bisa dirasakan, dilihat, diraba, dan peran ditempat kerja. Kehilangan yang dirasakan (perceived loss) merupakan kehilangan yang sifatnya unik menurut orang yang mengalami kedudukan, misalnya kehilangan harga diri atau rasa percaya diri. Jenis Kehilangan 1. Kehilangan objek eksternal (misalnya kecurian atau kehancuran akibat bencana alam). 2. Kehilangan lingkungan yang dikenal (misalnya berpindah rumah, dirawat di rumah sakit, atau berpindah pekerjaan) 3. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti (misalnya pekerjaan, kepergian anggota keluarga atau teman dekat, perawat yang dipercaya, atau binatang peliharaan) 4. Kehilangan suatu aspek diri (misalnya anggota tubuh dan fungsi psikologis atau fisik) 5. Kehilangan hidup (misalnya kematian anggota keluarga, teman dekat, atau diri sendiri) Dampak Kehilangan 1. Pada masa anak-anak, kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk berkembang, kadang-kadang akan timbul regresi serta rasa takut untuk ditinggalkan atau dibiarkan kesepian. 2. Pada masa remaja atau dewasa muda, kehilangan dapat menyebabkan disintegrasi dalam keluarga. 3. Pada masa dewasa tua, kehilangan khususnya kematian pasangan hidup, dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat hidup orang yang ditinggalkan. Berduka
Berduka (grieving) merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Hal ini diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada masing-masing orang dan didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspektasi budaya, dan keyakinan spiritual yang dianutnya. Sedangkan istilah kehilangan (bereavement) mencakup berduka dan berkabung (mourning), yaitu perasaan di dalam dan reaksi keluar orang yang ditinggalkan. Berkabung adalah periode penerimaan terhadap kehilangan dan berduka. Hal ini terjadi dalam masa kehilangan dan sering dipengaruhi oleh kebudayaan atau kebiasaan. Respon Berduka Respon berduka seseorang terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap berikut (Kubler-Rose, dalam Potter dan Perry, 1997) : Tahap Marah Tahap Depresi Tahap Pengingkaran Tahap Tawar Menawar Tahap Penerimaan 1. Tahap Pengingkaran Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya, mengerti, atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi. 2. Tahap Marah Tahap Marah. Pada tahap ini individu menolak kehilangan. 3. Tahap Tawar-Menawar Pada tahap ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan dapat mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau terang-terangan seolah-olah kehilangan tersebut dapat dicegah. 4. Tahap Depresi Pada tahap ini pasien sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang bersikap sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, rasa tidak berharga, bahkan bisa muncul keinginan bunuh diri. 5. Tahap Penerimaan Tahap ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu berpusat pada objek yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Jenis Berduka 1. Berduka normal, terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap kehilangan. Misalnya kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian, dan menarik diri dari aktivitas untuk sementara. 2. Berduka antisipatif, yaitu proses ‘melepaskan diri’ yang muncul sebelum kehilangan atau kematian yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, ketika menerima diagnosis terminal, seseorang akan memulai proses perpisahan dan menyelesaikan berbagai urusan di dunia sebelum ajalnya tiba. 3. Berduka yang rumit, dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ke tahap berikutnya, yaitu tahap kedukaan normal. Masa berkabung seolah-olah tidak kunjung berakhir dan dapat mengancam hubungan orang yang bersangkutan dengan orang lain. 4. Berduka tertutup, yaitu kedudukan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka. Contohnya, kehilangan pasangan karena AIDS, anak mengalami kematian orang tua tiri, atau ibu yang kehilangan anaknya di kandungan atau ketika bersalin. ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH KEHILANGAN DAN BERDUKA A. Pengkajian Keperawatan Pengkajian masalah ini adalah adanya faktor predisposisi yang mempengaruhi respons seseorang terhadap perasaan kehilangan yang dihadapi, antara lain : 1. Faktor Genetik. Individu yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga dengan riwayat depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi suatu permasalahan, termasuk dalam menghadapi perasaan kehilangan. 2. Kesehatan Fisik Individu dengan fisik, mental, serta pola hidup yang teratur cenderung mempunyai kemampuan dalam mengatasi stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang mengalami gangguan jasmani. 3. Kesehatan Mental Individu yang mengalami gangguan jiwa, terutama yang mempunyai riwayat depresi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan pesimis, selalu dibayangi masa depan peka dalam menghadapi situasi kehilangan. 4. Pengalaman kehilangan di masa lalu. Kehilangan atau perpisahan dengan orang yang dicintai pada masa kanak-kanak akan mempengaruhi kemampuan individu dalam mengatasi perasaan kehilangan pada masa dewasa. 5. Struktur Kepribadian Individu dengan konsep diri yang negatif dan perasaan rendah diri akan menyebabkan rasa percaya diri yang rendah dan tidak objektif terhadap stres yang dihadapi 6. Adanya stresor perasaan kehilangan Stresor ini dapat berupa stresor yang nyata ataupun imajinasi individu itu sendiri, seperti kehilangan biopsikososial yang meliputi kehilangan harga diri, pekerjaan, seksualitas, posisi dalam masyarakat, milik pribadi (kehilangan harta benda atau yang dicintai, kehilangan kewarganegaraan, dan lain-lain). B. Diagnosis Keperawatan 1. Berduka berhubungan dengan kehilangan aktual atau kehilangan yang dirasakan. 2. Berduka antisipatif berhubungan dengan perpisahan atau kehilangan. 3. Berduka disfungsional berhubungan dengan kehilangan orang/benda yang dicintai atau memiliki arti besar. C. Perencanaan dan Tindakan Keperawatan Secara umum, perencanaan dan intervensi keperawatan yang dilakukan untuk menghadapi kedudukan adalah : 1. Membina hubungan saling percaya 2. Mengenali faktor-faktor yang mungkin menghambat. 3. Mengurangi atau menghilangkan faktor penghambat 4. Memberi dukungan terhadap respons kehilangan pasien 5. Meningkatkan rasa kebersamaan antara anggota keluarga. 6. Menentukan tahap keberadaan pasien D. Evaluasi Keperawatan Evaluasi terhadap masalah kehilangan dan berduka secara umum dapat dinilai dari kemampuan untuk menghadapi atau memaknai arti kehilangan, reaksi terhadap kehilangan, dan perubahan perilaku yang menerima arti kehilangan. sEMOGA BERMANFAAT ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar