Rabu, 15 Februari 2012

TERAPI MODALITAS UNTUK LANSIA

TERAPI MODALITAS UNTUK LANSIA Oleh : Yayang Nur Enida (S1-KEPERAWATAN) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penuaan adalah suatu proses akumulasi dari kerusakan sel somatik yang diawali oleh adanya disfungsi sel hingga terjadi disfungsi organ dan pada akhirnya akan meningkatkan risiko kematian bagi seseorang. Apabila dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, proses penuaan merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Pada hakikatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaiyu : masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran baik fisik maupun psikis. Corak perkembangan proses penuaan bersifat lambat namun dinamis dan bersifat individual baik secara fisiologis maupun patologis, karena banyak dipengaruhi oleh riwayat maupun pengalaman hidup di masa lalu yang terkait dengan faktor biologis, psikologis, spiritual, fungsional, lingkungan fisik dan sosial. Perubahan struktur dan penurunan fungsi sistem tubuh tersebut diyakini memberikan dampak yang signifikan terhadap gangguan homeostasis sehingga lanjut usia mudah menderita penyakit yang terkait dengan usia misalnya: stroke, Parkinson, dan osteoporosis dan berakhir pada kematian. Penuaan patologis dapat menyebabkan disabilitas pada lanjut usia sebagai akibat dari trauma, penyakit kronis, atau perubahan degeneratif yang timbul karena stres yang dialami oleh individu. Stres tersebut dapat mempercepat penuaan dalam waktu tertentu, selanjutnya dapat terjadi akselerasi proses degenerasi pada lanjut usia apabila menimbulkan penyakit fisik. Oleh karena itu diperlukannya pelaksanaan program terapi yang diperlukan suatu instrument atau parameter yang bisa digunakan untuk mengevaluasi kondisi lansia, sehingga mudah untuk menentukan program terapi selanjutnya. Tetapi tentunya parameter tersebut harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dimana lansia itu berada, karena hal ini sangat individual sekali, dan apabila dipaksakan justru tidak akan memperoleh hasil yang diharapkan. Dalam keadaan ini maka upaya pencegahan berupa latihan-latihan atau terapi yang sesuai harus dilakukan secara rutin dan berkesinambungan. 1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : a. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah keperawatan gerontik. b. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang terapi modalitas untuk lansia dari materi yang dicari diluar bangku kuliah. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Program Pada Lansia 1) Program Fisioterapi Dalam penanganan terapi latihan untuk lansia dimulai dari aktivitas fisik yang paling ringan kemudian bertahap hingga maksimal yang bisa dicapai oleh individu tersebut, misalnya : a. Aktivitas di tepat tidur  Positioning, alih baring, latihan pasif&aktif lingkup gerak sendi b. Mobilisasi  Latihan bangun sendiri, duduk, transfer dari tempat tidur ke kursi, berdiri, jalan  Melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari : mandi, makan, berpakaian, dll 2) Program Okupasiterapi Latihan ditujukan untuk mendukung aktivitas kehidupan sehari-hari, dengan memberikan latihan dalam bentuk aktivitas, permainan, atau langsung pada aktiviats yang diinginkan. Misalnya latihan jongkok-berdiri di WC yang dipunyai adalah harus jongkok, namun bila tidak memungkinkan maka dibuat modifikasi. 3) Program Ortotik-prostetik Bila diperlukan alat bantu dalam mendukung aktivitas pada lansia maka seorang ortotis-prostetis akan membuat alat penopang, atau alat pengganti bagian tubuh yang memerlukan sesuai dengan kondisi penderita. Dan untuk lansia hal ini perlu pertimbangan lebih khusus, misalnya pembuatan alat diusahakan dari bahan yang ringan, model alat yang lebih sederhana sehingga mudah dipakai, dll. 4) Program Terapi Wicara Program ini kadang-kadang tidak selalu ditujukan untuk latihan wicara saja, tetapi perlu diperlukan untuk memberi latihan pada penderita dengan gangguan fungsi menelan apabila ditemukan adanya kelemahan pada otot-otot sekitar tenggorokan. Hal ini sering terjadi pada penderita stroke, dimana terjadi kelumpuhan saraf vagus, saraf lidah, dll 5) Program Sosial-Medik Petugas sosial-medik memerlukan data pribadi maupun keluarga yang tinggal bersama lansia, melihat bagaimana struktur/kondisi di rumahnya yang berkaitan dengan aktivitas yang dibutuhkan penderita, tingkat sosial-ekonomi. Hal ini sangat penting sebagai masukan untuk mendukung program lain yang ahrus dilaksanakan, misalnya seorang lansia yang tinggal dirumahnya banyak trap/anak tangga, bagaimana bisa dibuat landai atau pindah kamar yang datar dan biasa dekat dengan kamar mandi, dll 6) Program Psikologi Dalam menghadapi lansia sering kali harus memperhatikan keadaan emosionalnya, yang mempunyai ciri-ciri yang khas pada lansia, misalnya apakah seorang yang tipe agresif, atau konstruktif, dll. Juga untuk memberikan motivasi agar lansia mau melakukan latihan, mau berkomunikasi, sosialisasi dan sebgainya. Hal ini diperlukan pula dalam pelaksanaan program lain sehingga hasilnya bisa lebih baik. 2.2 Peran Tim Medis 1) Fase Perawatan Intensif (Intensive Care) Yang menonjol peran perawat, baru kemudian fisioterapis dan mungkin petugas sosial medik sudah mulai berperan. 2) Fase Perawatan Antara (Intermediate Care) Perawat masih diperlukan, fisioterapis makin menonjol, terapis okupasi mulai berperan, mungkin terapis wicara atau psikolog mulai berperan. Juga bila alat bantu diperlukan, misalnya walker, dynamic-splint, dll. Maka ortoris-prostetis yang akan membuat susuai dengan kondisi penderita. 3) Fase Perawatan Sendiri (Self Care) Okupasi terapi sangat penting untuk mendukung aktivitas kehidupan sehari-hari. Mulai dari aktiviats untuk pribadi sampai dengan pada aktivitas dalam kehidupannya dalam pekerjaan. 4) Fase Rawat Jalan (Day Care) Tergangtung pada gangguan/dissabilitas yang dideritanya. Biasanya terapi okupasi suportif sangat membantu, dan dalam hal ini program bisa diberikan dalam bentuk kegiatan yang menghasilkan sesuatu. Pada keadaan ini seluruh tim akan berperan, dan dokter selalu memantau pada setiap fase yang dijalani. 2.3 Terapi Modalitas Pada Lansia Selain perhatian secara umum terhadap therapy pada usila seperti tersebut diatas, pertimbangan yang serius harus secara nyata diberikan kepada beberapa therapy pilihan pada orang tua dengan distress. Sayangnya ruang lingkup gerontology masih relatif baru, keinginan untuk membicarakan tentang therapy modalitas yang spesifik dengan usila pada banyak kasus didahului evaluasi dari efektifitas. Sebagai konsekwensinya, dalam bahasan berikut harus betul-betul memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan penggunaan suatu metode therapy. Tanpa memandang tingkat kepopuleran suatu tehnik yang diberikan, keefektifan pencapaian tujuan haruslah yang pertama terdefinisikan dalam ingatan seseorang, begitupun halnya tujuan/sasaran klien usila. Sekarang ini banyak pendekatan yang ada untuk individu usila yang membutuhkan pertolongan (baik dimasyarakat maupun diinstitusi). Sungguhnpun demikian suatu model khusus untuk pemilihan therapy telah diajukan oleh Gottesman, Quarterman dan Cohn (1973) (dalam kenyataannya tidak ada criteria untuk suatu therapy dan gangguan), Penulis ini menyatakan bahwa faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan therapy haruslah selalu mencakup : 1. Kapasitan (fisik, emosi, kognitif) dari orang usila. 2. Kebutuhan bermasyarakat (social demand) yang menyangkut “penyesuaian” perilaku untuk orang usila. 3. Harapan (keinginan-keinginan) dari orang tertentu lainnya 4. Harapan-harapan (keinginan-keinginan) dari usila sendiri untuk dirinya sendiri) Misalnya, seperti yang dibecarakan Gottesman dkk, usila ingin mengemudi mobil, akan tetapi ia tidak cukup kuat untuk mengemudi secara fisik (post stroke), penolong harus lebih menganjurkan untuk lebih menyadari keterbatasan fisiknya atau merekomendasikannya dengan suatu rancangan lain yang cocok (misal : meminta teman atau anggota keluarganya untuk mengendarai atau menggunakan bus). Kemungkinan sumber masalah barangkali berkaitan masalah social (batasan usia yang diijinkan untuk mengemudi) atau beristirahat dengan anggota keluarga (mereka mungkin mengharapkan agar anggota keluarga yang telah tua tetap senantiasa dapat mandiri karena masing-masing anggota selalu mandiri). Intervensi dalam kasus begini diarahkan pada pengubahan yang memungkinkan usila dapat mengemudi atau berfokus pada mengubah harapan/keinginan keluarga yang mempunyai anggota yang berusia lanjut. Kemungkinan, Gottesman (1980) mengjarkan bahwa perhatian utama haruslah berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas dan tidak hanya pada kuantitas hidup. Lebih khusus lagi tujuan therapy yang dimaksudkan oleh Gottesman adalah : 1. Berwawasan pada pola perilaku seseorang 2. Menghilangkan gejala 3. Menghilangkan hal-hal yang terkait 4. Memperlambat memperburuknya keadaan 5. Adaptasi terhadap keadaan yang ada 6. Memperbaiki kemampuan self care/perawatan diri 7. Meningkatkan aktifitas 8. Memperbesar atau meningkatkan kemandirian Tiap tujuan mempunyai kekurangan dan kelebihan tergantung dari beberapa faktor, misalnya : kesehatan atau tingkat dukungan yang ada pada klien sehingga apakah inimerupakan pendekatan jangka pendek atau jangka panjang atau pendekatan rawat jalan (community – based) atau klien yang ada dirumah sakit yang membutuhkan keputusan secara pribadi. Beberapa tipe untuk therapy (individu, kelompok, keluarga) berlaku baik untuk sebagaian individu (dan atau beberapa dokter atau therapist) disbanding yang lainnya. Sementara beberapa yang lain akan cocok untuk tertentu dibanding yang lainnya. Beberapa (therapy individu) merupakan tipe yang lebih mahal daripada lainnya (therapy kelompok) (Hayslip dan Kooken 1982 : 289). Jadi pendekatan /tehnik pribadi kurang baik untuk orang tua mungkin lebih berhasil pada semua situasi atau untuk semua tipe klien. Kenyataan ini lebih disukai (Eisdorfer dan Stotsky, 1977) bahwa pendekatan pribadi lebih besar daripada tehnik lainnya, sebenarnya menjamin sedikit akan meningkatkan mutu dan menolong memberi pengalaman yang baik untuk klien dan konselor. (Hayslip dan Kooken, 1982) yang mempunyai teori ada beberapa macam dari bentuk psikhotherapi dan dari bentuk-bentuk ini tidak bermakna. Salah satu yang harus dicatat bahwa jumlah investigasi eksperimen yang dapat dilakukan pada klien yang lebih tua lebih sedikit dibanding dengan studi yang dapat dilakukan pada kelompok usia lainnya. Karena itu pada beberapa kasus adalaha tidak mungkin untuk mengatakan suatu pendekatan tertentu yang efektif akan dilakukan. Dalam hal ini berbagai pendekatan therapy haruslah dipandang sebagai sesuatu yang dinilai diskriptif, tidak dapat dites atau didasarkan atas dasar pengetahuan sedikit. Pengertian Terapi modalitas adalah Kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang bagi lansia. Tujuan a. Mengisi waktu luang bagi lansia b. Meningkatkan kesehatan lansia c. Meningkatkan produktifitas lansia d. Meningkatkan interaksi sosial antar lansia Jenis Kegiatan : a. Psikodrama Bertujuan untuk mengekspresikan perasaan lansia. Tema dapat dipilih sesuai dengan masalah lansia. b. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Terdiri atas 7-10 orang. Bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan, bersosialisasi, bertukar pengalaman, dan mengubah perilaku. Untuk terlaksananya terapi ini dibutuhkan Leader, Co-Leader, dan fasilitator. Misalnya : cerdas cermat, tebak gambar, dan lain-lain. c. Terapi Musik Bertujuan untuk mengibur para lansia seningga meningkatkan gairah hidup dan dapat mengenang masa lalu. Misalnya : lagu-lagu kroncong, musik dengan gamelan d. Terapi Berkebun Bertujuan untuk melatih kesabaran, kebersamaan, dan memanfaatkan waktu luang. Misalnya : penanaman kangkung, bayam, lombok, dll e. Terapi dengan Binatang Bertujuan untuk meningkatkan rasa kasih sayang dan mengisi hari-hari sepinya dengan bermain bersama binatang. Misalnya : mempunyai peliharaan kucing, ayam, dll f. Terapi Okupasi Bertujuan untuk memanfaatkan waktu luang dan meningkatkan produktivitas dengan membuat atau menghasilkan karya dari bahan yang telah disediakan. Misalnya : membuat kipas, membuat keset, membuat sulak dari tali rafia, membuat bunga dari bahan yang mudah di dapat (pelepah pisang, sedotan, botol bekas, biji-bijian, dll), menjahit dari kain, merajut dari benang, kerja bakti (merapikan kamar, lemari, membersihkan lingkungan sekitar, menjemur kasur, dll) g. Terapi Kognitif Bertujuan agar daya ingat tidak menurun. Seperti menggadakan cerdas cermat, mengisi TTS, tebak-tebakan, puzzle, dll h. Life Review Terapi Bertujuan untuk meningkatkan gairah hidup dan harga diri dengan menceritakan pengalaman hidupnya. Misalnya : bercerita di masa mudanya i. Rekreasi Bertujuan untuk meningkatkan sosialisasi, gairah hidup, menurunkan rasa bosan, dan melihat pemandangan. Misalnya : mengikuti senam lansia, posyandu lansia, bersepeda, rekreasi ke kebun raya bersama keluarga, mengunjungi saudara, dll. j. Terapi Keagamaan Bertujuan untuk kebersamaan, persiapan menjelang kematian, dan meningkatkan rasa nyaman. Seperti menggadakan pengajian, kebaktian, sholat berjama’ah, dan lain-lain. k. Terapi Keluarga Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi keluarga adalah agar keluarga mampu melaksanakan fungsinya. Untuk itu sasaran utama terapi jenis ini adalah keluarga yang mengalami disfungsi; tidak bisa melaksanakan fungsi-fungsi yang dituntut oleh anggotanya. Dalam terapi keluarga semua masalah keluarga yang dirasakan diidentifikasi dan kontribusi dari masing-masing anggota keluarga terhadap munculnya masalah tersebut digali. Dengan demikian terlebih dahulu masing-masing anggota keluarga mawas diri; apa masalah yang terjadi di keluarga, apa kontribusi masing-masing terhadap timbulnya masalah, untuk kemudian mencari solusi untuk mempertahankan keutuhan keluarga dan meningkatkan atau mengembalikan fungsi keluarga seperti yang seharusnya. Proses terapi keluarga meliputi tiga tahapan yaitu fase 1 (perjanjian), fase 2 (kerja), dan fase 3 (terminasi). Di fase pertama perawat dan klien mengembangkan hubungan saling percaya, isu-isu keluarga diidentifikasi, dan tujuan terapi ditetapkan bersama. Kegiatan di fase kedua atau fase kerja adalah keluarga dengan dibantu oleh perawat sebagai terapis berusaha mengubah pola interaksi di antara anggota keluarga, meningkatkan kompetensi masing-masing individual anggota keluarga, eksplorasi batasan-batasan dalam keluarga, peraturan-peraturan yang selama ini ada. Terapi keluarga diakhiri di fase terminasi di mana keluarga akan melihat lagi proses yang selama ini dijalani untuk mencapai tujuan terapi, dan cara-cara mengatasi isu yang timbul. Keluarga juga diharapkan dapat mempertahankan perawatan yang berkesinambungan. BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Menua merupakan proses fisologis dengan berbagai perubahan fungsi organ tubuh dan bukan suatu penyakit. Adapun gangguan yang menyebabkan penderita harus berbaring lama sedapat mungkin dihindarkan. Pemberian terapi merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pemulihan kesehatan pada lansia. Seperti pemberian modalilitas alamiah ataupun dengan menggunakan peralatan khusus biasanya hanya menggurangi keluhan yang bersifat sementara, akan tetapi latihan-latihan yang bersifat pasif maupun aktif yang bertujuan untuk mempertahankan kekuatan pada sekelompok otot-otot tertentu agar mobilitas tetap terjaga sebaiknya dilaksanakan secara berkesinambungan, sehingga pencegahan disabilitas primer diminimalkan dan disabilitas sekunder bisa dicegah, dan pada akhirnya tidak terjadi handicap. 3.2. Saran Peran perawat sangat diperlukan untuk mempertahankan derajat kesehatan pada lansia dalam taraf setinggi-tingginya, sehingga terhindar dari penyakit atau gangguan kesehatan. Dengan demikian, lansia masih dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Oleh karena itu perkembangan ilmu dan praktika dalam pembelajaran sangat penting untuk memenuhi kualitas sumber daya yang dibutuhkan. DAFTAR PUSTAKA Martono, Hadi dan Kris Pranarka.2010.Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).Edisi IV.Jakarta : Balai Penerbit FKUI Maryam, R.Siti.2008.Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya.Jakarta : Salemba Medika Mubarak, Wahid Iqbal.2009.Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi.Jakarta : Salemba Medika Pudjiastuti, Sri Surini dan Budi Utomo.2003.Fisioterapi Pada Lansia.Jakarta : EGC Stockslager, Jaime L.2007.Buku Saku Asuhan Keparawatan Geriatrik.Edisi II.Jakarta : EGC Watson, Roger.2003.Perawatan Pada Lansia.Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar