Kamis, 23 Februari 2012

ASKEP PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

ASKEP PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM Oleh : Yayang Nur Enida
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mual dan muntah pada kehamilan umumnya disebut morning sickness, dialami sekitar 70-80% wanita hamil dan merupakan fenomena yang sering terjadi pada umur kehamilan 5-12 minggu (edelman, 2004;quenland, 2005). Mual dan muntah pada kehamilan biasanya bersifat ringan dan merupakan kondisi yang dapat dikontrol sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Meskipun kondisi ini biasanya berhenti pada trimester pertama namun gejalanya bisa menimbulkan gangguan nutrisi, dehidrasi, kelemahan, penurunan BB, serta ketidakseimbangan elektrolit (pilliteri, 1995; stele,at al;2001). Bila keadaan ini semakin berat dan tidak tertanggulangi maka disebut hiperemesis gravidarum, dilaporkan terjadi sekitar 0,05% sampai 2% dari semua kehamilan (Simpson;at all;2001;koren,at all;2002;paauw,at all;2005). Hiperemesis gravidarum adalah muntah berlebihan pada wanita hamil yang menyebabkan terjadinya penurunan BB (lebih dari 5% BB awal), dehidrasi, ketosis, dan tidak normalnya kadar elektrolit (old,2000;Nick helin 2004; edelman, 2004;paawi, at all;2005). Hiperemesis gravidarum dapat mulai terjadi pada minggu ke 4-10 kehamilan dan selanjutnya akan membaik umumnya pada usia kehamilan 20 minggu. Etiologi Hiperemesis gravidarum sampai saat ini masih belum jelas (simpson, at all;2001). Walaupun terdapat beberapa teori yang menjelaskan penyebab terjadinya, namun tidak ada satupun yang dapat secara tepat menjelaskan prosesnya. Hiperemesis gravidarum berhubungan dengan terjadinya peningkatan kadar estrogen/ human horionik gonadotropinm(HCG) dan mungkin juga berhubungan dengan terjadinya hipertiroidisme selama kehamilan. Penyebab lain adalah kekurangan vitamin B atau gangguan metabolisme karbohidrat, kocak, at all.(1999). Dalam penelitiannya menemukan adanya hubungan antara infeksi karena likobakterfilori dengan terjadinya hiperemesis gravidarum (Michelini, 2004). Hiperemesis gravidarum tidak hanya mengancam kehidupan wanita, namun juga menyebabkan efek samping pada janin seperti abortus, BBLR, kelahiran prematur, serta malformasi pada bayi baru lahir (health dan medicine weak 2005;truzio dan harvei, 2005; verberg, at all,2005). Gross, at all. (1989) dalam tiran (2004) menyatakan bahwa kejadian pertumbuhan janin terhambat (intra uterin groth retardation/ IUGR) meningkat pada wanita hiperemesis gravidarum. Selain dampak fisiologis kehidupan wanita dan janinnya, Hiperemesis gravidarum memberikan dampak secara psikologis, sosial, dan spiritual. Secara psikologis hiperemesis gravidarum dapat menimbulkan dampak kecemasan, rasa bersalah dan marah jika gejala mual dan muntah semakin memberat. Selain itu bisa terjadi konflik antara ketergantungan terhadap pasangan dan kehilangan kontrol jika wanita sampai berhenti bekerja (Simpson, at all;2001). Kontak sosial dengan orang lain juga berubah karena wanita mengalami perubahan yang sangat kompleks pada kehamilannya, hal ini bisa menimbulkan perasaan terisolasi dan kesendirian. Pernyataan ini didukung oleh studi yang dilakukan oleh Still, at all.(2001) yang menyatakan bahwa 1 dari 3 wanita dengan mual dan muntah mengalami stres dan perpecahan dalam keluarga, gangguan emosional, dan gangguan fungsi sosial. Hal ini terjadi pada wanita yang bekerja dimana hampir 50% mengalami penurunan efisiensi kerja, dan 25% membutuhkan waktu untuk istirahat bekerja. Komponen psikologis juga berperan pada parahnya mual dan muntah serta perkembangan hiperemesis gravidarum. Kehamilan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan serta tekanan pekerjaan dan pendapatan menyebabkan terjadinya perasaan berduka, ambifalen, dan konflik. Hal ini bisa jadi faktor predisposisi hiperemesis gravidarum (Leiners dan Sauwer, 2000; majotta at all;2000 simpson, at all;2001;ferberd, at all;2005). Selain faktor psikologis, faktor kultur atau budaya juga dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit ini rabirnerson, at all.(2000) meyatakan bahwa faktor kultur yang merupakan hal penting yaitu berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang akan d konsumsi. Selain itu, kejadian hiperemesis gravidarum bisa meningkat pada wanita yang mengalami pembatasan dalam intake nutrisi (sebagai contoh yaitu wanita yang sedang menjalankan puasa). Risiko yang terjadi pada klien hiperemesis gravidarum bisa dikurangi dengan kemajuan dalam hal perawatan dan pengobatan. Sebelum diperkenalkan cairan itravena, kasus kematian pada penyakit ini tejadi sebesar 159 kematian/ 1000 kelahiran di Inggris (Nic Helinik, 2002). Dehidrasi (diikuti dengan gejala hipotensi ortostatik), gangguan metabolik, dan elektrolit umumnya terjadi sebagai komplikasi dari hiperemesis gravidarum. Komplikasi yang bisa ditimbulkan adalah Kuernicike Enchepalopatik, pasospasme arteri cerebral, dan neuropati perifer. Pada kasus mual dan muntah yang berlebihan menyebabkan klien dirawat d RS (Bennett, at all;1998;Miler, 2002). Berbagai kesulitan ekonomi yang berdampak pada permasalahan psikologis dan sosial saat ini menyebabkan kasus hiperemesis gravidarum cenderung mengingkat. Kebanyakan klien menunjukan pemulihan dari gejala dan terhindar dari komplikasi dengan pembrian cairan intravena, pemberian vitamin, dan koreksi elektrolit; jika klien tidak menunjukan perbaikan, dilakukan juga dengan pemberian anti emetik. Ghani(2003) menyatakan bahwa pemberian terapi farmakologi, pemberian nutrisi parenteral, dan melalui selang nasogatrik (NGT) digunakan untuk mempertahankan nutrisi yang adekuat dan kesejahteraan janin. Sekalipun demikian, kadang ditemukan kegagalan daam pemberian terapi/ kondisi klien menjadi terancam sehingga dibutuhkan terminasi kehamilan. Terminasi yang efektif mencapai 2% dari kehamilan dengan komplikasi hiperemesis gravidarum (Mazotta, at all;1996 dalam verberd, at all;2005). Adanya permasalahan kesehatan yang dialami wanita dengan hiperemesis gravidarum membawa implikasi pada askep. Perawat dituntut untuk memberikan pelayanan keperawatan profesional melalui peranannya sebagai praktisi ahli, edukator, peneliti, dan konsultan sehingga bisa menjadi model peran, advokat, dan agen pembaharu (Gorri, 1998) melalui perannya tersebut, diharapkan perawatan bisa membantu mengatasi berbagai masalah yang ditimbulkan pada kehamilan dengan hiperemesis gravidarum. Menurut Tiran (2004), tujuan dari keperawatan maternitas adalah memberikan kesempatan pada klien untuk mencapai keamanan dan kenyamanan dalam menjalani kehamilan serta persalinan dengan mempertimbangkan keadaan biofisik maupun psikososial. Aplikasi teori dan konsep keperawatan perlu dilakukan oleh perawat untuk dapat menjalankan fungsi dan perannya secara optimal, serta bisa memberikan askep secara holistik dan komperhensif. Konsep keperawatan maternitas yang berpusat pada keluarga merupakan konsep yang mulai dikenal dan perlu diterapkan dalam pemberian pelayanan mmaternitas karena membawa manfaat yang besar bagi klien dan keluarga. Berkaitan dengan klien yang mengalami hiperemesis gravidarum, penerapan konsep ini sangat diperlukan untuk meningkatkan keterlibatan pasangan dan anggota keluarga dalam menerima kondisi klien, menurut Tiran (2004) respon pasangan terhadap kondisi klien dapat dalam bentuk kecemasan yang berlebihan/ kurang memperdulikan kebutuhan fisik dan psikologis klien. Oleh karena itu keluarga perlu menggunakan mekanisme koping dalam mengatasi keadaan ini, serta bisa menjadi sistem pendukung bagi kilen dalam mengahadapi masa krisis. 1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : a. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah keperawatan maternitas. b. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang hiperemesis gravidarum dari materi yang dicari diluar bangku kuliah. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Dasar 2.2.1 Definisi Hiperemesis gravidarum Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan sehingga menganggu pekerjaan sehari-hari dan keadaan umum menjadi buruk. Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering ditemui pada kehamilan trisemester I, kurang lebih 6 minggu setelah hed terakhir selama 10 minggu. Sekitar 60-80% multigravida mengalami mual muntah, namun gejala ini terjadi lebih berat hanya pada satu diantara seribu kehamilan. 2.2.2 Etiologi Etiologi hiperemesis gravidarum beum diketahui secara pasti, namun diduga di pengaruhi oleh berbagai faktor berikut ini. 1. Faktor presdisposisi seperti primiggravida, molahidatidosa, dan kehamilan ganda. 2. Faktor organik sepert alergi masuknya filihorialis dalam sirkulasi, perbahan metabolik akibat kehamilan, dan resistensi ibu yang menurun. 3. Faktor psikologi. 2.2.3 Patofisiologi Secara fisiologis, rasa mual terjadi akibat kadar estrogen yang meningkat dalam darah sehingga mempengaruhi sistem pencernaan, tetapi mual dan muntah yang terjadi terus-menerus dapat mengakibatkan dehidrasi, hiponatremia, hipokloremia, penurunan klorida urin yang selanjutnya menyebabkan hemokonsentrasi yang mengurangi perpusi darah ke jaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat toksik. Pemakaian cadangan karbohidrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak tida sempurna sehingga terjadi ketosis. Hipokalemia akibat muntah dan eksresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensi muntah dan merusak hepar. Selaput lendir esofagus dan lambung dapat robek (sindrom Mallory-Weeiss), sehingga terjadi perdarahan gastrointestinal. 2.2.4 Manifestasi Klinis Berdasarkan berat ringannya gejala, hiperemesis gravidarum dibagi menjadi tiga tingkatan. 1. Tingkat 1 Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum, menimbulkan rasa lemah, penurunan nafsu makan (anoreksia), berat badan turun, dan nyeri epigastrium. Frekuensi nadi ibu naik biasanya menjadi 100 kali/menit. Tekanan darah sistolik turun, turgor kulit menurun, lidah kering danmata cekung. 2. Tingkat 2 Ibu tampak lemah dan apais, lidah kotor, nadi kecil dan cepat, suhu tubuh terkadang naik, serta mata sedikit ikterik. BB ibu turun, timbul hipotensi, hemokonsentrasi, oligoria, konstipasi, dan nafas bau aseton. 3. Tingkat 3 Kesadaran ibu menurun dari somnolen hingga koma, muntah berhenti, nadi cepat dan kecil. Suhu menigkat, serta tekanan darah semakin turun. 2.2.5 Penatalaksanaan Bila pencegahan tidak berhasil, maka diperlukan pengobatan dengan tahapan sebagai berikut. 1. Ibu diisolasi dikamar yang tenang dan cerah dengan pertukaran udara yang baik. Kalori diberikan secara parental dengan glukosa 5% dalam cairan fisiologis sebanyak 2-3 liter/ hari. 2. Diuresis lalu dikontrol untuk keseimbangan cairan. 3. Bila selama 24 jam ibu tidak muntah, coba berikan makan dan minum sedikit demi sedikit. 4. Sedatif yang diberikan adalah penobarbital. 5. Pada keadaan lebih berat, berikan anti emetik seperti metoklorpamid, disiklomin hidroklorida, atau klorpromazin. 6. Berikan terapi psikologis yang meyakinkan ibu bahwa penyakitnya bisa dsembuhkan serta menghilangkan perasaan takut akan kehamialn dan konflik yang melatarbelakangi hiperemesis. 2.2 Asuhan Keperawatan Pemberian askep klien hiperemesis gravidarum dilakukan dengan menetapkan rencana perawatan medis, pemberian terapi intravena, pemberian agen farmakologi dan suplemen nutrisi, serta pemantauan respon klien terhadap intervensi. Perawat melakukan observasi pada klien untuk mendeteksi adanya tanda-tanda komplikasi seperti asidosis metabolik, ikterik, hemoragik. Jenis emesis serta pengukuran intake dan outpun yang akurat merupakan aspek penting dalam askep pada hiperemesis gravidarum. Hygiene oral yang diberikan saat klien berada dalam status pemberian nutrisi secara parenteral dan setelah episode muntah dapat membantu meminimalkan ketidaknyamanan yang dirasakan klien. Jika klien mulai berrespon terhadap yang diberikan, pemberian cairan per orar dalam jumlah terbatas dan makanan lunak seperti biskuit kering atau roti bakar dapat dimulai. Diet ini bisa ditingkatkan secara bertahap sesuai toleransi sesuai toleransi klien sampai mampu mengkonsumsi diet dengan kandungan nutrisi yang adekuat (Bobak, Lowdermilk & Jensen alih bahasa oleh Wijayarini, 2004). Biasanya klien hiperemesis gravidarum berrepon terhadap terapi dan prognsisnya baik. Klien bisa dipulangkan bila keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai, BB mulai meningkat. Perawat bertugas membantu penanganan kondisi psikososial klien karena kondisinya lemah baik secara fisik maupun emosional. Upaya meningkatkan istirahat yang adekuat penting untuk klien dengan hiperemesis, maka perawata mengoordinasikan tindakan terapi dan periode kunjungan sehingga klien memilliki kesemapatan untuk beristirahat. Askep pada klien dengan hiperemesis gravidarum dapat dijadikan melalui 5 tahapan proses keperawatan meliputi : pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi. 2.3.1 Pengkajian Keperawatan Pengkajian merupakan pendekatan yang istematis untuk mengumpulkan data, pengelompokan, dan menganalisis, sehingga didapatkan masalah dan kebutuhan untuk perawatan ibu. Tujuan utama pengkajian adalah untuk memberikan gambarana secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan ibu yang memungkinkan perawatan melakukan asuhan keperawatan. Langkah pertama dalam pengkajian ibu hiperemesis gravidarum adalah mengumpulkan data. Data-data yang akan dikumpulkan adalah sebagai berikut: 1. Data Riwayat Kesehatan a. Pada riwayat kesehatan sekarang terdapat keluhan yang dirasakan oleh ibu sesuai dengan gejala-gejala pada hiperemesis gravidarum, yaitu : mual dan muntah yang terus menerus, merasa lemah dan kelelahan, merasa haus dan terasa asam di mulut, serta konstipasi dan demam. Selanjutnya dapat juga ditemukan berat badan yang menurun. Turgor kulit yang buruk dan gangguan elektrolit. Terjadinya oliguria, takikardia, mata cekung, dan ikterus. b. riwayat kesehatan dahulu - kemungkinan ibu pernah mengalami hiperemesis gravidarum sebelumnya. - kemungkinan ibu pernah mengalami penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan yang menyebabkan mual muntah. c. riwayat kesehatan keluarga Kemungkinan adanya riwayat kehamilan ganda pada keluarga. 2. Data Fisik biologis Data yang dapat ditemukan pada ibu dengan hiperemesis gravidarum adalah mamae yang membengkak, hiperpigmentasi pada areola mamae, terdapat kloasma garvidarum, mukosa membran dan bibir kering, turgor kulit buruk, mata cekung dan sedikit ikterik, ibu tampak pucat dan lemah, takikardi, hipotensi, serta pusing dan kehilangan kesadaran. 3. Riwayat Menstruasi a. kemungkinan menarkhe usia 12-14 tahun. b. siklus 28-30 hari. c. lamanya 5-7 hari. d. banyaknya 2-3 kali ganti duk/hari. e. kemungkinan ada keluhan waktu haid seperti nyeri, sakit kepala, dan muntah. 4. riwayat perkawinan Kemungkinan terjadi pada perkawian usia muda. 5. riwayat kehamilan dan persalinan a. hamil muda : ibu pusing, mual dan muntah, serta tidak ada nafsu makan. b. hamil tua : pemeriksaan umum terhadap ibu mengenai kenaikan berat badan, tekanan darah, dan tingkat kesadaran. 6. Data psikologi Riwayat psikologi sangat penting dikaji agar dapat diketahui keadaan jiwa ibu sehubungan dengan perilaku terhadap kehamilan. Keadaan jiwa ibu yang labil, mudah marah, cemas, takut akan kegagalan persalinan, mudah menangis, sedih, serta kekecewaan dapat memperberat mual muntah. Pola pertahanan diri (koping) yang digunakan ibu bergantung pada pengalamannya terhadap kehamilan serta dukungan dari keluarga dan perawat. 7. Data sosial ekonomi Hiperemesis gravidarum bisa terjadi pada semua golongan ekonomi, namun pada umumnya terjadi pada tingkat ekonomi menengah kebawah. Hal ini diperkirakan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang dimiliki. 8. Data penunjang Data penunjang didapat dari hasil laboratorium, yaitu pemeriksaan darah dan urine. Pemeriksaan darah yaitu nilai hemaglobin dan hematokrit yang meningkat menunjukan hemokonsentrasi yang berkaitan dengan dehidrasi. Pemeriksaan urinalis yaitu urine yang sedikit dan konsentrasi yang tinggi akibat dehidrasi, juga terdapatnya aseton di dalam urine. 2.3.2 Diagnosa Keperawatan Dari pengkajian yang telah diuraikan, maka ada beberapa kemugkinan diagnosis keperawatan yang dapat ditegakan. 1. Kekurangan cairan dan elektrolit yang berhubungan dengan muntah yang berlebihan dan pemasukan yang tidak adekuat. 2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual dan muntah terus menerus. 3. Nyeri pada epigastrum yang berhubungan dengan muntah yang berulang. 4. Risiko intoleransi aktifitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan dan kurangnya intake nutrisi. 5. Risiko perubahan nutrisi fetal yang berhubungan dengan berkurangnya peredaran darah dan makanana ke fetal (janin). 2.3.1 Intervensi Keperawatan No dx Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional 1 Kebutuhan cairan&elektrolit terpenuhi. Mandiri 1. istirahatkan ibu ditempat yang nyaman. 2. Pantau tanda2 vital & dehidrasi. 3. Pantau tetes cairan infus 4. Catat intake dan output. 5. Setelah 24 jam anjurkan untuk minum tiap jam. Kolaborasi 1. kolaborasi dengan dokter dalam emberian cairan infus. 1. Istirahat akan menurunkan kebutuhan energi kerja yang membuat metabolisme tidak meningkat, sehingga tidak merangsang terjadinya mual dan muntah. 2. Dengan mengobservasi tanda-tanda kekurangan cairan dapat diketahui sejauhmana keadaan umum dan kekurangan cairan pada ibu. TD turun, suhu meningkat, & nadi meningkat merupakan tanda2dehidrsi & hipokalemia. 3. Jumlah tetesan infus yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya kelebihan dan kekurangan cairan di dalam sistem sirkulasi. 4. Dengan mngetahui intake dan output cairan diketahui keseimbangan cairan di dalam tubuh. 5. Minum yang sering dapat menambah pemasukan cairan melalui oral. 1. Pemberian cairan infus dapat mengganti jumlah cairan elektrolit yang hilang dengan cepat, sehingga bisa mencegah keadaan yang lebih buruk pada ibu. 2 Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Mandiri 1. Kaji kebutuhan nutrisi ibu. 2. Observasi tanda2kekurangan nutrisi. 3. Setelah 24 jam pertama beri makanan dalam porsi kecil tapi sering. 4. Berikan makanan dalam keadaan hangat dan berfariasi. 5. Berikan makanan yang tidak berlemak dan berminyak. 6. Anjurkan klien untuk memakan makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan (roti kering dan biskuit). 7. Berikan ibu motivasi agar mau memberikan makanan. 8. Timbang BB ibu. 1. Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi ibu dapat dinilai sejauh mana kekurang nutrisi pada ibu dan menetukan langkah selanjutnya. 2. Untuk mengetahui sejauhmana kekurangnn nutrisi akibat muntah yang berlebihan. 3. Makanan dalam proses kecil dapat memenuhi pemenuhan lambung dan mengurangi kerja peristaltik usu serta memudahkan proses penyerapan. 4. Makanan yang hangat diharapkan dapat mengurangi rasa mual dan makanan yang berfariasi untuk menambah nafsu makan ibu, sehingga diharapkan kebutuhan nutrisinya bisa terpenuhi. 5. Makanan yang tidak berlemak dan berminyak mengurangi rangsangan saluran pncernaan, sehingga diharapkan mual dan muntah berkurang. 6. Makanan kering tidak merangsang pencernaan & mengurangi perasaan mual. 7. Ibu merasa diperhatikan dan berusaha menghabiskan makanannya. 8. Dengan menimbang BB bisa diketahui keseimbangan BB sesuai usia kehamilan dan pengaruh nutrisi. 3 Rasa nyaman terpenuhi Mandiri 1. Kaji tingkat nyeri. 2. Atur posisi ibu dengan kepala lebih tinggi selama 30 menit setelah makan. 3. Perhatikan kebersihan mulut ibu sesudah & sebelum makan. 4.Alihkan perhatian ibu pada hal yang menyenangkan. 5.Anjurkan ibu untuk istirahat dan batasi pengunjung. Kolaborasi 1. Kolaborasi daam pemberian anti metik dan sedatif dengan dokter. 1. Dengan mengkaji dapat diketahui tingkat nyeri pada ibu dan menentukan tindakan selanjutnya. 2. Dengan posisi kepala lebih tinggi dapat mengurangi tekanan pada gastrointestinal, sehingga dapat mencegah muntah yang berulang. 3. Kebersihan mulut yang baik & terpelihara bisa menimbulkan rasa nyaman juga diharapkan dapat mengurangi mual & muntah. 4. Dengan mengalihkan perhatian diharapkan ibu bisa melupakan rasa nyeri akibat muntah ynag berulang. 5. Dengan istirahat yang cukup & membatasi pengunjung, dapat menambah ketenangan pada ibu. 1. Obat anti emetik mengurangi muntah sedatif membuat ibu tenang, sehingga dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh ibu. 4 Pola pertahan diri efektif Mandiri 1. Bantu ibu untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung terhadap kehamilannya. 2. Dengarkan keluhan ibu dengan penuh perhatian. 3. Diskusikan dengan ibu tentang masalah yang dihadapi & pemecahan masalah yang bisa dilakukan. 4. Bantu ibu untuk memecahkan masalahnya, terutama yg berhubungan dengan kehamilannya. 5.Dukung ibu dalam menemukan pemecahan masalah yg konstruktif. 6. Libatkan keluarga dalam kehamilan ibu. Kolaborasi 1. Kolaborasi dgn ahli psikiatri jika diperlukan. 1. Dengan mengungkapkan perasaannya, dapat diketahui reaksi ibu terhadap kehamilannya. 2. Ibu merasa diperhatikan dan tidak sendiri dalam menghadapi masalahnya. 3. Melalui diskusi dapat diketahui koping ibu dalam menghadapi masalahnya. 4. Dengan membantu memecahkan masalah ibu, maka perawat dapat menemukan pola koping ibu yang efektif. 5. Dukungan dapat menambah rasa percaya diri ibu dlm menemukan pemecahan masalah. 6. Keluarga bisa diajak kerjasama dalam memberikan dukungan pada ibu terhadap kehamilannya. 1. Untuk mengetahui adanya kemungkinan faktor psikologis yang lebih berat sebagai penyebab masalah. 5 Perkembangan janin tidak terganggu. Mandiri 1. Jelaskan pada ibu mengenai pentingnya nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan janin. 2. Periksa fundus uteri. 3. Pantau denyut jantung janin. 1. Agar ibu menyadari akan pentingnya nutrisi bagi janin & ibu mengetahui akan kebutuhan nutrisinya. 2. Tinggi fundus uterus yg tidak sesuai dengan usia kehamilan dapat menjadi bahan penilaian akan nutrisi janin. 3. Denyut jantung yg masih dlm keadaan normal & aktif menandakan janin masih dalam keadaan baik. 2.3.1 Implementasi Keperawatan Setelah intervensi keperawatan, selanjutnya rencana tindakan tersebut diterapkan dalam situasi yang nyata untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Tindakan keperawatan harus mendetail. Agar semua tenaga keperwatan dapat menjalankan tugasnya dengan baik dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, perawat dapat langsung memberikan pelayanan kepada ibu dan atau dapat juga didelegasikan kepada orang lain yang dipercayai dibawah pengawasan yang masih seprofesi dengan perawat. 2.3.1 Evaluasi Keperawatan Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang hendak dicapai. Evaluasi dari proses keperawatan adalah menilai hasil yang diharapkan terhadap perubahan perilaku ibu dan untuk megetahui sejauh mana masalah ibu dapat teratasi. Disamping itu, perawat juga melakukan umpan balik. Atau pengkajian ulang jika yang ditetapkan belum tercapai dan proses keperawatan segera dimodifikasi. BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Kesimpulan pada makalah ini dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Hiperemesis gravidarum merupakan mual dan muntah yang terjadi berlebihan sehingga menyebabkan turunya BB dan dehidrasi. Jika tidak diatasi diatasi dapat membahayakan ibu dan janin. 2. Penyebab Hiperemesis gravidarum yaitu diantaranya perubahan hormon selama kehamilan, sterss fisik dan pdikologis kehamilan, pengosongann lambung lebih lambat. 3.2. Saran Saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut : 1. Untuk mencegahsupaya tidak terjadi hiperemesis gravidarum, maka ibu bisa melakukan diantaranya adalah makanlah lebih banyak zat tepung. 2. Ketika ibu merasakan mual muncul, ibu menjadi tidak nafsu makan tapi usahakan agar ibu tetap makan dengan cara makanlah dalam jumlah sedikit tetapi sering dengan keadaan makanan hangat. 3. Hiperemesis gravidarum harus dipelajari untuk lebih memaksimalkan dalam pemahaman ilmu keperawatan. 4. Akademik hendaknya menyediakan buku-buku yang berhubungan dengan hiperemesis gravidarum, umumnya materi-materi yang berkaitan dengan keperawatan maternitas. DAFTAR PUSTAKA Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika. Runiari, Nengah. 2010. Asuhan keperawatan pada klien dengan hiperemesis gravidarum. Jakarta : Salemba Medika. http;//Hiperemesis-Gravidarum.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar