Jumat, 10 Februari 2012

ASKEP PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PENYALAHGUNAAN ZAT ADIKTIF DAN PSIKOTROPIKA

ASKEP PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PENYALAHGUNAAN ZAT ADIKTIF DAN PSIKOTROPIKA Disusun oleh : Yayang Nur Enida (S1 Keperawatan)
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika danBahan/ Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten. Meskipun dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda. Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15–24 tahun. Tampaknya generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap NAPZA. Oleh karena itu kita semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman kelangsungan pembinaan generasi muda. Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya Promotif, Preventif, Terapi dan Rehabilitasi. Peran penting sektor kesehatan sering tidak disadari oleh petugas kesehatan itu sendiri, bahkan para pengambil keputusan, kecuali mereka yang berminat dibidang kesehatan jiwa, khususnya penyalahgunaan NAPZA. Bidang ini perlu dikembangkan secara lebih profesional, sehingga menjadi salah satu pilar yang kokoh dari upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA. Kondisi diatas mengharuskan pula Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dapat berperan lebih proaktif dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di masyarakat. Dari hasil identifikasi masalah NAPZA dilapangan melalui diskusi kelompok terarah yang dilakukan Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat bekerja sama dengan Direktorat Promosi Kesehatan – Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes-Kesos RI dengan petugas-petugas puskesmas di beberapa propinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Bali ternyata pengetahuan petugas puskesmas mengenai masalah NAPZA sangat minim sekali serta masih kurangnya buku yang dapat dijadikan pedoman. Berdasarkan hal tersebut diatas maka Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat – Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes – Kesos RI merasa perlu untuk menyusun suatu pedoman praktis yang mudah dipelajari untuk menanggulangi penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya. Adanya Buku Pedoman Praktis mengenai Penyalahgunaan NAPZA bagi petugas Puskesmas, diharapkan dapat menjadi penuntun bagi petugas Puskesmas dalam membantu menanggulangi masalah NAPZA di masyarakat. B. TUJUAN a) Perawat dapat mengetahui pengertian klien penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA. b) Perawat dapat mengetahui proses terjadinya masalah klien NAPZA. c) Perawat dapat melakukan asuhan keperawatan klien NAPZA BAB II PEMBAHASAN A. PENGGUNAAN ISTILAH 1. NAPZA NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitik beratkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik,psikis, dan sosial. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran. 2. NARKOBA NARKOBA adalah singkatan Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya. Istilah ini sangat populer di masyarakat termasuk media massa dan aparat penegak hukum yang sebetulnya mempunyai makna yang sama dengan NAPZA Ada juga menggunakan istilah Madat untuk NAPZA Tetapi istilah Madat tidak disarankan karena hanya berkaitan dengan satu jenis Narkotika saja, yaitu turunan Opium. B. Rentang Respons Gangguan Penggunaan NAPZA Rentang respons ganguan pengunaan NAPZA ini berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai yang berat, indikator ini berdasarkan perilaku yang ditunjukkan oleh pengguna NAPZA. Respon adaptif Respon Maladaptif Eksperimental Rekreasional Situasional Peyalahgunaan Ketergantungan (Sumber: Yosep, 2007) Eksperimental: Kondisi pengguna taraf awal, yang disebabkan rasa ngin tahu dari remaja. Sesuai kebutuan pada masa tumbuh kembangnya,klien biasanya ingin mencari pengalaman yang baru atau sering dikatakan taraf coba-coba. Rekreasional: Penggunaan zat adiktif pada waktu berkumpul dengan teman sebaya, misalnya pada waktu pertemuan malam mingguan, acara ulang tahun. Penggunaan ini mempunyai tujuan rekreasi bersama temantemannya. Situasional: Mempunyai tujuan secara individual, sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri. Seringkali penggunaan ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapi. Misalnya individu menggunakan zat pada saat sedang mempunyai masalah, stres, dan frustasi. Penyalahgunaan: Penggunaan zat yang sudah cukup patologis, sudah mulai digunakan secara rutin, minimal selama 1 bulan, sudah terjadi penyimpangan perilaku mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan sosial, pendidikan, dan pekerjaan. Ketergantungan: Penggunaan zat yang sudah cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya toleransi dan sindroma putus zat (suatu kondisi dimana individu yang biasa menggunakan zat adiktif secara rutin pada dosis tertentu menurunkan jumlah zat yang digunakan atau berhenti memakai, sehingga menimbulkan kumpulan gejala sesuai dengan macam zat yang digunakan. Sedangkan toleransi adalah suatu kondisi dari individu yang mengalami peningkatan dosis (jumlah zat), untuk mencapai tujuan yang biasa diinginkannya. C. JENIS NAPZA YANG DISALAHGUNAKAN 1. NARKOTIKA (Menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika). NARKOTIKA : adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. NARKOTIKA dibedakan kedalam golongan-golongan : Narkotika Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkaN ketergantungan, (Contoh : heroin/putauw, kokain, ganja). Narkotika Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (Contoh : morfin, petidin) Narkotika Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan (Contoh : kodein) 2. PSIKOTROPIKA (Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika). Yang dimaksud dengan : Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut: Psikotropika GolonganI : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. (Contoh : ekstasi, shabu, LSD) Psikotropika Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan . ( Contoh amfetamin, metilfenidat atau ritalin) Psikotropika Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh : pentobarbital, Flunitrazepam). Psikotropika Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh : diazepam, bromazepam, Fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, seperti pil BK, pil Koplo, Rohip, Dum, MG). 3. ZAT ADIKTIF LAIN Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut Narkotika dan Psikotropika, meliputi : - Minuman berakohol, Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minumanberakohol, yaitu : - Golongan A: kadar etanol 1-5%, (Bir) - Golongan B : kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman anggur) - Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput.) - Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor dan sebagaipelumas mesin. Yang sering disalah gunakan, antara lain : Lem, thinner, penghapus cat kuku, bensin. - Tembakau : Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. Pada upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang lebih berbahaya. Bahan/ obat/zat yang disalahgunakan dapat juga diklasifikasikan sebagai berikut : - Sama sekali dilarang : Narkotoka golongan I dan Psikotropika Golongan I. - Penggunaan dengan resep dokter: amfetamin, sedatif hipnotika. - Diperjual belikan secara bebas : lem, thinner dan lain-lain. - Ada batas umur dalam penggunannya : alkohol, rokok. Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat digolongkan menjadi tiga golongan : 1. Golongan Depresan (Downer) Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain. 2. Golongan Stimulan(Upper) Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahankerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, Kokain 3. Golongan Halusinogen Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehinggaseluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. Golongan ini termasuk : Kanabis (ganja), LSD, Mescalin Macam-macam bahan Narkotika dan Psikotropika yang terdapat di masyarakat serta akibat pemakaiannya : 1. OPIOIDA - Opioida dibagi dalam tiga golongan besar yaitu : - Opioida alamiah (opiat): morfin, cpium, kodein - Opioida semi sintetik : heroin/putauw, hidromorfin - Opioida sintetik : meperidin, propoksipen, metadon - Nama jalannya putauw, ptw, black heroin, brown sugar - Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan heroin yang tidak murni berwarna putih keabuan - Dihasilkan dari cairan getah opium poppy yang diolah menjadi morfin kemudian dengan proses tertentu menghasil putauw, dimana putauw mempunyai kekuatan 10 kali melebihi morfin. Opioid sintetik yang mempunyai kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. - Opiat atau opioid biasanya digunakan dokter untuk menghilangkan rasa sakit yang sangat (analgetika kuat). Berupa pethidin, methadon, Talwin, kodein dan lain-lain - Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian timbul rasa ingin menyendiri untuk menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan sipemakai akan kehilangan rasa percaya diri hingga tak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Mereka mulai membentuk dunia mereka sendiri. Mereka merasa bahwa lingkungannya adalah musuh. Mulai sering melakukan manipulasi dan akhirnya menderita kesulitan keuangan yang mengakibatkan mereka melakukan pencurian atau tindak kriminal lainnya. 2. KOKAIN - Kokain mempunyai dua bentuk yaitu : kokain hidroklorid dan free base. Kokain berupa kristal pitih. Rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut dari free base. Free base tidak berwarna/putih, tidak berbau dan rasanya pahit - Nama jalanan dari kokain adalah koka,coke, happy dust, charlie, srepet, snow salju, putih. Biasanya dalam bentuk bubuk putih - Cara pemakaiannya : dengan membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau benda-benda yang mempunyai permukaan datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot seperti sedotan. Atau dengan cara dibakar bersama tembakau yang sering disebut cocopuff. Ada juga yang melalui suatu proses menjadi bentuk padat untuk dihirup asapnya yang populer disebut freebasing. Penggunaan dengan cara dihirup akan berisiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam. - Efek rasa dari pemakaian kokain ini membuat pemakai merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah rasa percaya diri, juga dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah. 3. KANABIS - Nama jalanan yang sering digunakan ialah : grass. Cimeng,ganja daN gelek,hasish,marijuana,bhang - Gamja berasal dari tanaman kanabis sativa dan kanabis indica. Pada tanaman ganja terkandung tiga zat utama yaitu tetrehidro kanabinol,kanabinol dan kanabidiol - Cara penggunaannya adalah dihisap dengan cara dipadatkan mempunyai rokok atau dengan menggunakan pipa rokok. - Efek rasa dari kanabis tergolong cepat,sipemakai : cenderung merasa lebih santai,rasa gembira berlebih (euforia), sering berfantasi. Aktif berkomonikasi,selera makan tinggi,sensitif,kering pada mulut dan tenggorokan 4. AMPHETAMINES - Nama generik amfetamin adalah D-pseudo epinefrin berhasil disintesa tahun 1887, dan dipasarkan tahun 1932 sebagai obat - Nama jalannya : seed,meth,crystal,uppers,whizz dan sulphate - Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan,digunakan dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet biasanya diminum dengan air. Ada dua jenis amfetamin : - MDMA (methylene dioxy methamphetamin), mulai dikenal sekitar tahun 1980 dengan nama Ekstasi atau Ecstacy. Nama lain : xtc, fantacy pils, inex, cece, cein, Terdiri dari berbagai macam jenis antara lain : white doft, pink heart, snow white, petir yang dikemas dalam bentuk pil atau kapsul - Methamfetamin ice, dikenal sebagai SHABU. Nama lainnya shabu-shabu. SS, ice, crystal, crank. Cara penggunaan : dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap, atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus (bong) 5. LSD (Lysergic acid) Termasuk dalam golongan halusinogen,dengan nama jalanan : acid, trips, tabs, kertas. - Bentuk yang bisa didapatkan seperti kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar, ada juga yang berbentuk pil, kapsul. - Cara menggunakannya dengan meletakkan LSD pada permukaan lidah dan bereaksi setelah 30-60 menit sejak pemakaian dan hilang setelah 8-12 jam. - Efek rasa ini bisa disebut tripping. Yang bisa digambarkan seperti halusinasi terhadap tempat. Warna dan waktu. Biasanya halusinasi ini digabung menjadi satu. Hingga timbul obsesi terhadap halusinasi yang ia rasakan dan keinginan untuk hanyut didalamnya, menjadi sangat indah atau bahkan menyeramkan dan lama-lama membuat paranoid. 6. SEDATIF-HIPNOTIK (BENZODIAZEPIN) - Digolongkan zat sedatif (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur) - Nama jalanan dari Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp. - Pemakaian benzodiazepin dapat melalui : oral,intra vena dan rectal - Penggunaan dibidang medis untuk pengobatan kecemasan dan stres serta sebagai hipnotik (obat tidur). 7. SOLVENT / INHALANSIA - Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup.Contohnya :Aerosol, aica aibon, isi korek api gas, cairan untuk dry cleaning, tiner,uap bensin. - Biasanya digunakan secara coba-coba oleh anak dibawah umur golongan kurang mampu/ anak jalanan - Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala terasa berputar, halusinasi ringan, mual, muntah, gangguan fungsi paru, liver dan jantung. 8. ALKOHOL - Merupakan salah satu zat psikoaktif yang sering digunakan manusia. Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi-umbian. Dari proses fermentasi diperoleh alkohol dengan kadar tidak lebih dari 15%, dengan proses penyulingan di pabrik dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%. - Nama jalanan alkohol : booze, drink - Konsentrasi maksimum alkohol dicapai 30-90 menit setelah tegukan terakhir. Sekali diabsorbsi, etanol didistribisikan keseluruh jaringan tubuh dan cairan tubuh. Sering dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah maka orang akan menjadi euforia, mamun sering dengan penurunannya pula orang menjadi depresi. D. Faktor Penyebab Penyalahgunaan NAPZA Harboenangin (dikutip dari Yatim, 1986) mengemukakan ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi pecandu narkoba yaitu faktor eksternal dan faktor internal. 1. Faktor Internal a. Faktor Kepribadian Kepribadian seseorang turut berperan dalam perilaku ini. Hal ini lebih cenderung terjadi pada usia remaja. Remaja yang menjadi pecandu biasanya memiliki konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah. Perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif, agresif, dan cenderung depresi, juga turut mempengaruhi. Selain itu, kemampuan untuk memecahkan masalah secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia mudah mencari pemecahan masalah dengan caramelarikan diri. b. Inteligensia Hasil penelitian menunjukkan bahwa inteligensia pecandu yang dating untuk melakukan konseling di klinik rehabilitasi pada umumnya berada pada taraf di bawah rata-rata dari kelompok usianya. c. Usia Mayoritas pecandu narkoba adalah remaja. Alasan remaja menggunakan narkoba karena kondisi sosial, psikologis yang membutuhkan pengakuan, dan identitas dan kelabilan emosi; sementara pada usia yang lebih tua, narkoba digunakan sebagai obat penenang. d. Dorongan Kenikmatan dan Perasaan Ingin Tahu Narkoba dapat memberikan kenikmatan yang unik dan tersendiri. Mulanya merasa enak yang diperoleh dari coba-coba dan ingin tahu atau ingin merasakan seperti yang diceritakan oleh teman-teman sebayanya. Lama kelamaan akan menjadi satu kebutuhan yang utama. e. Pemecahan Masalah Pada umumnya para pecandu narkoba menggunakan narkoba untuk menyelesaikan persoalan. Hal ini disebabkan karena pengaruh narkoba dapat menurunkan tingkat kesadaran dan membuatnya lupa pada permasalahan yang ada. 2. Faktor Eksternal a. Keluarga Keluarga merupakan faktor yang paling sering menjadi penyebab seseorang menjadi pengguna narkoba. Berdasarkan hasil penelitian tim UKM Atma Jaya dan Perguruan Tinggi Kepolisian Jakarta pada tahun 1995, terdapat beberapa tipe keluarga yang berisiko tinggi anggota keluarganya terlibat penyalahgunaan narkoba, yaitu: 1) Keluarga yang memiliki riwayat (termasuk orang tua) mengalami ketergantungan narkoba. 2) Keluarga dengan manajemen yang kacau, yang terlihat dari pelaksanaan aturan yang tidak konsisten dijalankan oleh ayah dan ibu (misalnya ayah bilang ya, ibu bilang tidak). 3) Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya penyelesaian yang memuaskan semua pihak yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara. 4) Keluarga dengan orang tua yang otoriter. Dalam hal ini, peran orang tua sangat dominan, dengan anak yang hanya sekedar harus menuruti apa kata orang tua dengan alasan sopan santun, adat istiadat, atau demi kemajuan dan masa depan anak itu sendiri – tanpa diberi kesempatan untuk berdialog dan menyatakan ketidaksetujuannya. 5) Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut anggotanya mencapai kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal. 6) Keluarga yang neurosis, yaitu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang kurang kuat, mudah cemas dan curiga, sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu. b. Faktor Kelompok Teman Sebaya (Peer Group) Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara teman-teman atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang agar berperilaku seperti kelompok itu. Peer group terlibat lebih banyak dalam delinquent dan penggunaan obat-obatan. Dapat dikatakanbahwa faktor-faktor sosial tersebut memiliki dampak yang berarti kepadakeasyikan seseorang dalam menggunakan obat-obatan, yang kemudian mengakibatkan timbulnya ketergantungan fisik dan psikologis. Sinaga (2007) melaporkan bahwa faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA pada remaja adalah teman sebaya (78,1%). Hal ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh teman kelompoknya sehingga remaja menggunakan narkoba. Hasil penelitian ini relevan dengan studi yang dilakukan oleh Hawari (1990) yang memperlihatkan bahwa teman kelompok yang menyebabkan remaja memakai NAPZA mulai dari tahap coba-coba sampai ketagihan. C. Faktor Kesempatan Ketersediaan narkoba dan kemudahan memperolehnya juga dapat disebut sebagai pemicu seseorang menjadi pecandu. Indonesia yang sudah menjadi tujuan pasar narkoba internasional, menyebabkan obat-obatan ini mudah diperoleh. Bahkan beberapa media massa melaporkan bahwa parapenjual narkotika menjual barang dagangannya di sekolah-sekolah, termasuk di Sekolah Dasar. Pengalaman feel good saat mencoba drugs akan semakin memperkuat keinginan untuk memanfaatkan kesempatan dan akhirnya menjadi pecandu. Seseorang dapat menjadi pecandu karena disebabkan oleh beberapa faktor sekaligus atau secara bersamaan. Karena ada juga faktor yang muncul secara beruntun akibat dari satu factor tertentu. E. Tanda dan Gejala Pengaruh NAPZA pada tubuh disebut intoksikasi. Selain intoksikasi, ada juga sindroma putus zat yaitu sekumpulan gejala yang timbul akibatpenggunaan zat yang dikurangi atau dihentikan. Tanda dan gejala intoksikasi dan putus zat berbeda pada jenis zat yang berbeda. Tabel 1. Tanda dan Gejala Intoksikasi Opiat Ganja Sedatif-Hipnotik Alkohol amfetamine * eforia * mengantuk * bicara cadel * konstipasi * penurunan kesadaran * eforia * mata merah * mulut kering * banyak bicara dan tertawa * nafsu makan meningkat * gangguan persepsi * pengendalian diri berkurang * jalan sempoyongan * mengantuk * memperpanjang tidur * hilang kesadaran * mata merah * bicara cadel * jalan sempoyongan * perubahan persepsi * penurunan Kemampuan menilai * selalu terdorong untuk bergerak * berkeringat * gemetar * cemas * depresi * paranoid Tabel 2. Tanda dan Gejala Putus Zat Opiat Ganja Sedatif-Hipnotik Alkohol amfetamine * nyeri * mata dan hidung berair * perasaan panas dingin * diare * gelisah * tidak bisa tidur * jarang ditemukan * cemas * tangan gemetar * perubahan persepsi * gangguan daya ingat * tidak bisa tidur * cemas * depresi * muka merah * mudah marah * tangan gemetar * mual muntah * tidak bisa tidur * cemas * depresi * kelelahan * energi berkurang * kebutuhan tidur meningkat F. Dampak Penyalahgunaan NAPZA Martono (2006) menjelaskan bahwa penyalahgunaan NAPZA mempunyai dampak yang sangat luas bagi pemakainya (diri sendiri), keluarga, pihak sekolah (pendidikan), serta masyarakat, bangsa, dan negara. 1. Bagi diri sendiri. Penyalahgunaan NAPZA dapat mengakibatkan terganggunya fungsi otak dan perkembangan moral pemakainya, intoksikasi (keracunan), overdosis (OD), yang dapat menyebabkan kematian karena terhentinya pernapasan dan perdarahan otak, kekambuhan, gangguan perilaku (mental sosial), gangguan kesehatan, menurunnya nilai-nilai, dan masalah ekonomi dan hukum. Sementara itu, dari segi efek dan dampak yang ditimbulkan pada para pemakai narkoba dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan/jenis: 1) Upper yaitu jenis narkoba yang membuat si pemakai menjadi aktif seperti sabu-sabu, ekstasi dan amfetamin, 2) Downer yang merupakan golongan narkoba yang dapat membuat orang yang memakai jenis narkoba itu jadi tenang dengan sifatnya yang menenangkan/sedatif seperti obat tidur (hipnotik) dan obat anti rasa cemas, dan 3) Halusinogen adalah napza yang beracun karena lebih menonjol sifat racunnya dibandingkan dengan kegunaan medis. 2. Bagi keluarga. Penyalahgunaan NAPZA dalam keluarga dapat mengakibatkan suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu. Dimana orang tua akan merasa malu karena memilki anak pecandu, merasa bersalah, dan berusaha menutupi perbuatan anak mereka. Stres keluarga meningkat, merasa putus asa karena pengeluaran yang meningkat akibat pemakaian narkoba ataupun melihat anak yang harus berulangkali dirawat atau bahkan menjadi penghuni di rumah tahanan maupun lembaga pemasyarakatan. 3. Bagi pendidikan atau sekolah. NAPZA akan merusak disiplin dan motivasi yang sangat tinggi untuk proses belajar. Penyalahgunaan NAPZA berhubungan dengan kejahatan dan perilaku asosial lain yang menganggu suasana tertib dan aman, rusaknya barang-barang sekolah dan meningkatnya perkelahian. 4. Bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Penyalahgunaan NAPZA mengakibatkan terciptanya hubungan pengedar narkoba dengan korbannya sehingga terbentuk pasar gelap perdagangan NAPZA yang sangat sulit diputuskan mata rantainya. Masyarakat yang rawan narkobatidak memiliki daya tahan dan kesinambungan pembangunan terancam . G. Penanggulangan Masalah NAPZA Penanggulangan masalah NAPZA dilakukan mulai dari pencegahan, pengobatan sampai pemulihan (rehabilitasi). 1) Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan, misalnya dengan: a) Memberikan informasi dan pendidikan yang efektif tentang NAPZA b) Deteksi dini perubahan perilaku c) Menolak tegas untuk mencoba (“Say no to drugs”) atau “Katakan tidak pada narkoba” 2) Pengobatan Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan detoksifikasi. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala putus zat, dengan dua cara yaitu: a) Detoksifikasi tanpa subsitusi Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti menggunakan zat yang mengalami gajala putus zat tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri. b) Detoksifikasi dengan substitusi Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis opiat misalnya kodein, bufremorfin, dan metadon. Substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat dari jenis anti ansietas, misalnya diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara penurunandosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat penghilang rasa nyeri, rasa mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang ditimbulkan akibat putus zat tersebut. c) Rehabilitasi Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu melalui pendekatan non medis, psikologis, sosial dan religi agar pengguna NAPZA yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan (Depkes, 2001). ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GANGGUAN PENGGUNAAN ZAT PSIKOTROPIKA 1 PENGKAJIAN a. Fisik : Data fisik yang mungkin ditemukan pada klien dengan penggunaaan NAPZA pada saat pengkajian adalah sebagai berikut : Nyeri, gangguan pola tidur, menurunnya selera makan, konstipasi, diarhe, perilaku sek melanggar norma, kemunduran dalam kebersihan diri, potensial komplikasi , jantung, hati dsb. infeksi pada parus-paru . sedangkan sasaran yang inigin dicapai adalah agar klien mampu untuk teratur dalam pola hidupnya. b. Emosional Persaan gelisah (takut kalau diketahui), tidak percaya diri, curiga dan tidak berdaya. Sasaran yang ingin dicapai adalah agar klien mampu untuk mengontrol dan mengendalikan diri sendiri c. Sosial Lingkungan sosial yang biasa akrab dengan klien biasanya adalah teman pengguna zat, anggota keluarga lain pengguna zat lingkungan sekolah atau kampus yang digunakan oleh para pengedar d. Intelektual Pikiran yang selalu ingin menggunakan zat adikitif, perasaan ragu untuk berhenti, aktivitas sekolah atau kuliah menurun sampai berhenti, pekerjaan terhenti. Sasaran yang ingin dicapai adalah agar klien mampu untuk konsentrasi dan meningkatkan daya pikir ke hal-hal yang posistif. e. Spiritual Kegiatan keagamaan tidak ada, nilai-nilai kebaikan ditinggalkan karena perubahanperilaku (tidak jujur, mencuri, mengancam dan lain-lain). Sasaran yang ingin dicapai adalah mampu meningkatkan ibadah , pelaksanaan nilai-nilai kebaikan. f. Keluarga ketakutan akan perilaku klien, malu pada masyarakat, penghamburan dan pengurasan secara ekonomi oleh klien, komunikasi dan pola asuh tidak efektif, dukungan moril terhadap klien tidak terpenuhi. Sasaran yang hendak dicapai adalah keluarga mampu merawat klien yang pada akhirnya mencapai tujuan utama yaitu mengantisipasi terjadinya kekambuhan (relaps) 2. POHON MASALAH 3. DIAGNOSA PERAWATAN Diagnosa Keperawatan menurut NANDA (The American Nursing Diagnosis Association) : 1 Gangguan persefsi sensori pada penggunaan halusinogen sehubungan denga tekanan teman sebaya, dimanifestasikan dengan berteriak dan menutup telinga bila ditinggal sendiri di kamar 2 Gangguan proses berfikir pada penggunaan alkohol sehubungan dengan tekanan dari hukum dan tutntutan dari keluarga dimanifestasikan dengan bingung dan kurang sadar 3 Gangguan persefsi sensori visual pada penggunaan alkohol sehubungan dengan hilangnya pekerjaan dan ditolak keluarga 4 Gangguan hubungan sosial ; manipulatif sehubungan dengan kondisi putus zat adiktif 5 Tidak efektifnya koping individu sehubungan dengan terus-menerus menggunakan zat adiktif 6 Gangguan konsep diri ; harga diri yang rendah sehubungan dengan ketidakmampuan mengatasi masalahanya 7 Gangguan konsep diri sehubungan dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri ; denial agar tetap menggunakan obat 8 Gangguan konsep diri harga diri rendah sehubungan dengan tidak mampu mengenal kualitas yang positif dari diri sendiri 4. PRINSIP PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN a. Prinsip Biopsikososiospiritual (Stuart Sundeen) : Biologis : Tindakan biologis dikenal dengan detoksifikasi yang bertujuan untuk : Memberikan asuhan yang aman dalam “withdrawl” (proses penghentian) bagi klien pengguna NAPZA Memberikan asuhan yang humanistik dan memelihara martabat klien Memberikan terapi yang sesuai. Setelah detoksifikasi tercapai, mempertahankan kondisi bebas dari zat adiktif , dimana terapi farmakologis harus diunjang oleh terapi yang lainnya. Psikologis : Bersama klien mengevaluasi pengalaman yang lalu dan mengidentifikasi aspek positifnya untuk diapakai mengatasi kegagalan. Sosial : Konseling keluarga : Keluarga sering frustasi menghadapi klien dan tidak mengerti sipat dan proses adiksi sehingga seringkali melakukan hal yang tidak terapeutik terhadap klien. Keluaraga sering melindungi klien dari dampak adiksi, meminta anggota keluarga lain untuk memaafkan klien. Menyalahkan diri sendiri, menghindari konfrontasi yang semuanya menyebabkan klien meneruskan pemakaian zat adiktif. Masalah yang dihadapi klien menimbulkan dampak bagi keluaraga seperti rasa tidak aman, malu, rasa bersalah, masalah keuangan, takut, dan merasa diisolasi. Oleh karena itu perawat perlu mendorong keluarga untuk mengikuti pendidikan kesehatan tentang proses penggunaan dan ketergantungan, gejala putus zar, gejala relapse, tindakan keperawatan, lingkungan terapeutik, dan semua hal yang terkait dengan pencegahan relapse di rumah. Terapi Kelompok : Terdiri dari 7-10 orang yang difasilitasi oleh terapist, kegiatan yang dilakukan adalah tiap anggota bebas menyampaikan riwayat sampai terjadinya adiksi, upaya yang dilakukan untuk berhenti memakai zat ,kesulitan yang dihadapi dalam melakukan program perawatan, terapist dan naggota kelompok memberikan umpan balik dengan jujur dan dapat menambah pengalaman masing-masing. Self help group : Selp help group adalah kelompok yang anggotanya terdiri dari klien yag berkeinginan bebas dari zat adiktif , dukungan antar anggota akan memebri kekuatan dan motivasi untuk bebas dari zat adiktif . b. Prinsip Community Therapeutik (Ana Keliat) Pada tempat ini klien dilatih untuk merubah perilaku kearah yang positif, sehingga mampu menyesuaikan dengan kehidupan di masyarakat. Hal ini dapat dilakukan bila klien diberi kesempatan mengungkapkan masalah pribadi dan lingkungan. Community terapeutik melakukan intervensi untuk mengatasinya. Beberapa metoda yang dilakukan : • Slogan yang berisi norma atau nilaii ke arah positif • Pertemuan pagi (Moorning Meeting) yang diikuti oleh seluruh staf dan klien untuk membahas masalah individu , interaksi antar klien dan kelompok • “Talking to”: metoda yang digunakan untuk saling memperingatkan dengan cara yang ramah sampai yang keras • Learning experience yaitu pemberian tugas yang bersipat membangun untu kmerubah perilaku negative • Pertemuan kelompok • Pertemuan umum (general meeting) c. Prinsip Prestasi ( Yosep) : P Prayer (religious) • Pemberian ceramah agama • Menyediakan bacaan-bacaan buku agama yang memotivasi hidup • Kolaborasi dalam Psychoreligius terapy • Menjelaskan prinsip-prinsip kesuksesan hidup menurut konsep agama yang diyakini • Menjelaskan tanggung jawab yag harus dipikul apabila melanggar norma agama • Menjelaskan kisah-kisah orang saleh yang diridloi Tuhan sebagai suri tauladan • Diskusi keagamaan, pengajian, seminar keagamaan R Reconciliation of Family • Diskusi dengan keluarga • Mengajarkan komunikasi assertif pada keluarga • Melibatkan anggota keluarga dalam terapi • Penyuluhan tentang proses, dampak dan penatalaksanaan adiksi • Motivasi keluarga untuk membantu klien mampu jujur bila sugestinya dating • Diskusikan upaya keluarga membantu klien mengurang sugesti • Bantu suasana mendukung keakraban di rumah • Idetifikasi penerimaan keluarga terhadap masalah • Bantu menerima masalah • Identifikasi harapan untuk sembuh total • Diskusikan arti kesembuhan • Idetifikasai pola asuh dalam keluaraga • Bantu keluarga latihan mengucapkan kata-kata yang mengharagai dan mendukung klien utnuk berhentI • Bantu menyembunyikan klien dari pengguna zat • Bantu memutuskan hubungan dengan pengguna zat • Diskusikan untuk menghargai usaha klien tidak berhubungan lagi dengan pengguna zat E Environment Condusif • Menghindari orang yang adiksi • Menjauhi tempat-tempat yang berkaitan dengan adiksi • Mencari lingkungan pergaulan baru • Mencari teman dekat dengan kemampuan prestasi yang tinggi • Hijrah menuju tempat tinggal yang lebih kondusif untuk maju • Bergaul dengan orang-orang yang berprestasi • Bantu mengidentifikasi teman bukan pengguna zat • Beri dukungan akan harapan bergaul lebih banyak dengan dengan bukan penggua zat S Say No ! (don’t try) • Tidak pernah mencoba (bagi yang belum terkena) • Belajar mengucapkan kata-kata tidak • Belajar berfikir positif dan bersikap optimis • Bantu klien menilai faktor negatif bila kontak dengan sesama pengguna zat • Bantu klien mengakhiri hubungan dengan teman pengedar • Bantu klien menghindari pengguna zat lain T Time Management • Membuat jadwal kegiatan harian • Mencatat kegiatan harian • Melakukan evaluasi kegaiatan harian setiap menjelang tidur • Memberikan kegiatan secara bertahap sesuai denga kebutuhan pasien • Memberikan reinforcement prestasi yang dicapai pasien • Mengikutsertakan klien dalam kegiatan pertemuan kelompok setiap pagi ; diberi tugas membaca berita yang aktual, serta dibahas bersama klien lain • Mengikutsertakan dan membuat jadwal pada jam-jam tertentu • Mengikutsertakan klien pada seminar dengan topik-topik tertentu seperti AIDS, dampak zat adiktif., cara hidup sehat. A Activity of Dynamic • Membuat target prestasi harian • Meniru orang-orang sukses dalam menghabiskan waktu setiap hari • Menjelaskan kiat-kiat mengusir kemalasan • Diskusikan cara mengalihkan pikiran dari sugesti ingin menggunakan zat dengan menciptakan sugesti yang lebih positif • Identifikasi potensi /hobi/aktivitas yang menyenangkan • Diskusikan manfaat aktivitas • Bantu merencanakan aktivitas (susun jadwal) • Motivasi untuk melakukan aktivitas secra teratur • Motivasi untuk mengatasai masalah dengan memulai segera • Motivasi untuk mengatasi bosan dengan selingan istirahat saat beraktivitas S Subject for Future • Membuat perencanaan tahunan • Mencari, mengidentifikasi tokoh idola yang dikagumi klien • Mempelajari riwayat hidup orang-orang sukses • Latihan menggunakan kata-kata “ ingin hidup sehat:, masa depan penting, “ masih ada harapan” I Information of Impact drug abuse • Menunjukan angka-angka statistik korban NAPZA • Menunjukan hasil-hasil penelitian pengaruh NAPZA terhadap timbulnya penyakit kronis • Menjelaskan hubungan antara prestasi, kekayaan kedudukan, kebahagian dengan perilaku masa lalu • Menjelaskan bahwa banyak prestasi yang dicapai orang lain yang tidak menggunakan NAPZA 5. IMPLEMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN MASALAH KEPERAWATAN IMPLEMENTASI Koping individu tidak efektif sehubungan dengan tidak mampu mengatasi keinginan menggunaan zat Data : Klien sakau Memaksa petugas untuk pemakaian zat Nyeri, gangguan pola tidur , gelisah, tak berdaya,sugestinya kuat Tujuan; Klien mampu untuk mengatasi keinginan menggunakan zat adiktif Individu : - Indentifikasi situasi yang menyebabakan timbulnya sugesti - Identifikasi perilaku ketika sugesti dating - Diskusikan cara mengalihkan pikiran dari sugesti ingin menggunakan zat dengan menciptakan sugesti yang lebih positif Latihan menggunakan kata-kata “ ingin hidup sehat:, masa depan penting, “ masih ada harapan Bantu klien untuk mengekspresikan perasannya Kelompok : - Diskusikan pengalaman mengucapkan kata-kata yang mengandung semangat menghindari zat Keluarga : - Motivasi keluarga untuk membantu klien mampu jujur bila sugestinya dating - Diskusikan upaya keluarga membantu klien mengurangi sugesti - Bantu suasana mendukung keakraban di rumah Intoleransi aktivitas (kurang aktivitas) sehubungan dengan kurangnya motivasi untuk sembuh Data : Bosan Tidak bekerja dan tidak sekolah Tidak terlibat pekerjaan di rumah Tujuan : - Klien mampu meningkatkan aktivitas terutama mengisi waktu luang Klien : - Identifikasi potensi /hobi/aktivitas yang menyenangkan - Diskusikan manfaat aktivitas - Bantu merencanakan aktivitas (susun jadwal) - Motivasi untuk melakukan akativitas secara teratur - Motivasi untuk mengatasai malas dengan memulai segera - Motivasi untuk mengatasi bosan dengan selingan istirahat saat beraktivitas - Kompensasikan dengan membaca Kelompok ; - Lakukan olah raga / permaianan/ aktivitas bersama Keluarga : - Dusikusikan menyediakan fasilitas bagi klien - Identifikasi cara keluarga memotivasi klien beraktifitas - Lakukan aktifitas bersama-sama Kerusakan interaksi sosial (maladaptive) Data ; Teman pergaualan cenederung pengguna zat Dikucilkan dari masyarakat, potensi hobi tidak aktif Tujuan ; - Klien mengambil keputusan untuk bergaul dengan teman bukan pengguna zat Klien ; - Identifikasi pengaruh teman terhadap sugesti - Bantu klien menilai faktor negatif bila kontak dengan sesama pengguna zat - Bantu klien mengakhiri hubungan - Bantu klien menghindari pengguna zat lain - Bantu mengidentifikasi eman bukan pengguna zat - Beri dukungan akan harapan kebaikan bila bergaul lebih banyak dengan bukan pengguna zat Kelompok : - Latihan dalam 10 detik mampu mengatakan tidak bila ditawari menggunakan zat - Diskusikan cara menghindar bila bertemu pengguna zat /pengedar Keluarga ; - Diskusikan mengidentifikasi pengguna zat - Bantu menyembunyikan klien dari pengguna zat - Bantu memutuskan hubungan dengan pengguna zat - Duskusikan untuk menghargai usaha klien tidak berhubungan lagi dengan pengguna zat Disteress spiritual sehubungan dengan kurangnya pengetahuan Data ; Tidak melakauakan ibadah yang biasa dilakuakan, mengancam Ragu terhadap keyakinan, Merasa kosong spiritual perilaku berbohong Perilaku mencuri Tujuan : Klie meningkatakan kegiatan spiritual Klien : _ Bantu mengidentifikasi kebutuhan spiritual _ Identifikasi arti keyakinan keagamaan _ Motivasi menjalanakan agama _ Bantu menguatakan dengan prtolongan Tuhan _ Bantu mengatur kegiatan keagamaan Kelompok : _ Diskusikan nilai-nilai kebaikan _ Lakukan kegiatan ibadah bersama Keluaraga ; _ Diskusikan pentingnya kegiatan keagamaan _ Bantu menyiapkan kegiatan keagamaan di rumah _ Motivasi orang tua sebagai contoh untuk kegiaan keagamaan (do’a bersama) Perubahan pemeliharaan kesehatan dan ADL Data ; Malam begadang Tidur tidak teratur Mandi jarang Tidak rapi Suka berkelahi Perialaku seks bebas Penyalahagunaan zat, perokok berat Tujuan : Klien mampu mengambil keputusan merubah dan memperbaiki gaya hidupnya Klien ; _ Identifikasi gaya hidup selama menggunakan zat _ Diskusikan kerugian gaya hidup pengguna zat _ Bantu kebiasaan mengontrol penggunaan zat /merokok _ Bantu latihan gaya hidup sehat : makan, mandi, tidur secara teratur Kelompok ; _ Diskusikan gaya hidup sehat dan manfaatnya Keluarga : _ Identifikasi gaya hidup keluarga _ Diskusikan keluarga sebagai model dan tempat berlatih untuk hidup sehat. Koping keluarga tidak efektif sehubungan dengan pola asuh yang salah Data ; Malu terhadap masyarakat Komunikasi dengan klien sering konflik, Tidak percaya curiga dan menuduh terhadap klien, Kehilangan barang, Sering dibohongi Tujuan ; Keluarga mampu memberikan kenyamanan pada klien sehingga mampu berhenti menggunakan zat Keluaraga ; _ Idetifikasi penerimaan keluarga terhadap masalah _ Bantu menerima masalah _ Identifikasi harapan untuk sembuh total _ Diskusikan arti kesembuhan _ Idetifikasai pola asuh dalam keluaraga _ Identifikasai kata atau perilaku yang meingkatkan sugesti klien _ Bantu respon keluarga bila klien menggunakan zat _ Bantu keluarga latihan mengucapkan kata-kata yang mengharagai dan mendukung klien utnuk berhenti Kelompok : _ Beri kesempatan untuk mengeskspresikan perasan _ Diskusikan cara mngahadapi perilaku klien dan rencana sebelum pulang _ Bantu mencapai kesepakatan tindak lanjut perawatan rehabilitasi mental Gangguan kesadaran somnolent sehubungan dengan intoksikasi obat sedatif hipnotik Tujuan : Klien mampu melakukan interaksi dan memebrikan respon terhadap stimulus secara optimal Klien : _ Observasi tanda-tanda vital terutama kesadaran, gejala kejang terutama 25 menit pada jam 3 pertama, 30 menit pada 3 jam kedua dan setiap 1 jam pada 24 jam berikutnya _ Bekerja sama denga dokter dalam pemberian terapi medis perhatikan dosis, reaksi pasien dan lama pemberian _ Memberikan rangsangan fisik secra terus menerus misalnya menepuk-nepuk bahu, memanggil nama klien . _ Memberikan rasa nyaman dan aman dengan pengaturan posisi _ Observasi keseimbangan cairan _ Menjaga keselamatan diri klien selama kesadaran terganggu _ Bila gelisah sulit diatasi pertimbangkan untuk fiksasi. Keluarga ; _ Berikan penjelasan tentang pengaruh zat adiktif terhadap kondisi fisik, sosial dan emosional klien 6 . EVALUASI Evaluasi kemamapuan klien dalam mengatasi keinginan menggunakan zat misalnya dalam pikiran klien sudah tergambar masa depan yang lebih baik (tanpa zat), hdup yang lebih berharga dan keyakinan tidak akan lagi menggunakan zat. Perilaku klien untuk mengatakan tidak terhadap tawaran penggunaan zat dan menyuruh pergi. Evaluasi apakah hubungan klein dengan keluarga sudah terbina saling percaya dan kesempatan untuk saling mendukung melakukan komunikasai yang lebih efektif untuk sama-sama mengatasi keinginan menggunakan zat lagi oleh klien, serta masalah yang timbul akibat penggunaan zat . BAB III PENUTUP KESIMPULAN Asuhan keperawatan pada klien dengan pemakaian NAPZA harus dilakukan secara holistic (Biopsikososiospiritual) serta melibatkan seluruh tim kesehatan yang harus ditunjang dengan sistem dan perangkat hukum yang memadai. Masalah utama dalam merawat klien yang menggunakan NAPZA adalah kekambuhan. Upaya untuk membantu adalah dengan meningkatkan kemampuan untuk berhenti, kontrol diri dan perlu dikembangakan bantuan dari keluaraga, kelompok, masyarakat serta lingkungan yang kondusif mencegah kambuh sehigga klien dapat memperpanjang jarak waktu pakai zat lagi atau sampai dapat berhenti total. DAFTAR PUSTAKA Stuart, G.W. (2006). Keperawatan Jiwa. (Edisi 5.). Jakarta: EGC. Buku saku keperawatan jiwa. (Edisi 5). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Potter, P.A., & Perry, A.G. (2005). Keperawatan Dasar: Konsep, Proses dan Praktik. (terjemahan). Edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Carpenito, L.J. (1995). Buku saku diagnosa keperawatan. Edisi 6. (terjemahan). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar